Harga Minyak Bertahan di Level US$ 95 per Barel di Tengah Risiko Perang Iran
Harga minyak acuan dunia bertahan di angka US$ 95 per barel pagi ini, Jumat (4/9). Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak naik 7% secara mingguan, mencatatkan kenaikan terbesar sejak Juli lalu.
Hal ini terjadi karena eskalasi permusuhan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran mengenai gangguan berkepanjangan terhadap aliran energi melalui Selat Hormuz.
Harga minyak Brent naik 0,3% menjadi US$ 95,76 per barel pada pukul 09.04 waktu Singapura. Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 0,4% menjadi US$ 91,65 per barel.
Eskalasi perang Timur Tengah kembali terjadi usai kampanye pengeboman AS pada awal pekan direspons Iran dengan serangan balasan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan tersebut. Tak hanya pangkalan militer, Iran juga terus menargetkan kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz dan meluncurkan rudal ke Yordania, Kuwait, serta Bahrain.
Di saat yang bersamaan, Israel mengindikasikan kesiapannya untuk kembali melancarkan pertempuran jika diperlukan dan menyatakan serangan Iran akan membebaskannya dari pembatasan yang ada saat ini. Hal tersebut meningkatkan kemungkinan terjadinya siklus eskalasi militer berikutnya.
Meski pertempuran kembali berkobar pekan ini, Wakil Presiden AS JD Vance mengecilkan skala konflik tersebut. Dia mengatakan tidak akan menyebutnya sebagai perang karena operasi tempur besar telah berakhir beberapa pekan lalu.
“Pasar minyak kini menghitung ulang kerentanannya. Premi risiko hanya bisa ditekan selama beberapa waktu ketika masalah keamanan yang mendasarinya masih belum terselesaikan,” kata Kepala Market Insights di Phillip Nova Pte Ltd. di Singapura, Priyanka Sachdeva dikutip dari Bloomberg, Jumat (4/9).
Harga Minyak Brent Telah Naik 60%
Harga minyak mentah Brent telah naik hampir 60% sepanjang tahun ini. Produk olahan seperti diesel bahkan mengalami kenaikan yang lebih tajam akibat konflik di Timur Tengah serta perang Rusia-Ukraina.
Harga ritel bahan bakar industri tersebut di AS mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022 pada pekan ini, sementara persediaan di Eropa berada jauh di bawah level musiman.
Meskipun peperangan kembali terjadi di Timur Tengah, sejumlah pengiriman minyak mentah masih terus keluar dari kawasan Teluk Persia melalui Selat Hormuz. Pejabat AS pada pekan ini menyebut arus minyak di kawasan tersebut masih kuat.
Arab Saudi juga mempertahankan harga minyak mentah andalannya untuk bulan depan, yang berpotensi menjadi sinyal kondisi ketat di pasar telah mereda.
Sebelum perang Iran, sekitar seperlima minyak dunia dan gas alam cair (LNG) global dikirim melalui Selat Hormuz menuju pasar-pasar dunia.
Harga LNG spot di Asia melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun pada pekan ini. Kenaikan biaya tersebut membebani permintaan dan anggaran sejumlah negara di kawasan tersebut.