Harga Minyak Naik, Negosiasi AS - Iran soal Selat Hormuz Kembali Buntu
Harga minyak dunia naik ke angka US$ 106 per barel pada Senin (28/9). Hal ini terjadi setelah Iran menyebut tidak akan melonggarkan persyaratannya untuk membuka kembali Selat Hormuz, sebagai respon penolakan Presiden Donald Trump terhadap proposal tersebut. Kondisi tersebut memupus harapan lalu lintas kapal melalui jalur air penting itu dapat segera kembali normal.
Harga Brent naik 1,6% menjadi US$ 106,03 per barel pada pukul 08.06 waktu Singapura. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate naik 1,1% menjadi US$ 93,42 per barel.
Presiden AS Donald Trump menyebut persyaratan yang diajukan Teheran merupakan sesuatu yang mungkin telah disetujui Washington sekitar setahun lalu. Trump menilai Iran telah terlalu jauh dalam tuntutannya, dia kini tengah memperkirakan negosiasi akan kembali dilanjutkan pekan ini.
Kepala Riset Energi di DBS Bank Ltd Suvro Sarkar, mengatakan kenaikan harga minyak kemungkinan akan terbatas. Sebab pasar memang tidak memperkirakan Selat Hormuz akan dibuka kembali dalam waktu tujuh hari. “Kami tidak berpikir ini banyak mengubah keadaan,” kata Suvro dikutip dari Bloomberg, Senin (28/9).
Harga minyak mentah bergerak fluktuatif sepanjang pekan lalu akibat sinyal yang beragam mengenai perundingan, pemulihan arus minyak dari Timur Tengah, serta ketidakpastian mengenai langkah AS untuk menekan harga solar yang telah mencapai rekor.
Trump mengatakan Gedung Putih sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor bahan bakar tersebut dengan sangat serius. Harga Brent telah naik sekitar 75% sepanjang tahun ini ketika konflik AS-Iran memasuki bulan kedelapan. Kenaikan harga minyak juga menambah tekanan inflasi.
Bloomberg menyebut jalur AS-Iran untuk kembali ke meja perundingan masih belum pasti. Para negosiator sebelumnya telah menjajaki kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan tersebut sekaligus mencari cara agar Washington mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kesepakatan dua negara itu berpotensi akan serupa dengan nota kesepahaman yang dicapai pada pertengahan Juni, yang menghasilkan gencatan senjata rapuh sebelum akhirnya runtuh.
“Republik Islam Iran kemungkinan akan mengirim minyak terakhirnya ke Cina dalam waktu dua pekan, seiring Beijing secara signifikan mengurangi dukungannya terhadap negara tersebut,” kata Menteri Keuangan AS Scott Bessent
Dia menyebut kini hanya sekitar 15 juta barel minyak mentah Iran yang masih berada dalam perjalanan melalui laut. Kondisi ini semakin menekan Teheran untuk mencapai kesepakatan.
Meski perang AS-Iran mengarah pada negosiasi, ketegangan di Timur Tengah saat ini masih tinggi. Konflik lain terus terjadi, pasukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman menyebut sistem pertahanan udara mereka mencegat drone Houthi ke Riyadh.