Antrean Beli BBM Mengular di 6 Wilayah RI, ESDM Sebut karena EL Nino
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengatakan kasus antrean pengisian bahan bakar minyak (BBM) di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) pada sejumlah daerah dalam beberapa waktu terakhir tidak disebabkan oleh faktor pasokan.
Sejak akhir Agustus, daerah yang mengalami antrean BBM yaitu Batam, Palu, Jawa Timur, Kalimantan Tengah, dan Makassar, Sulawesi Selatan.
“Kalau terjadi antrean itu bukan disebabkan ketahanan stok, tapi karena salah satunya kondisi El Nino,” kata Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, yang dipantau secara daring melalui kanal Youtube Kemendagri, Senin (5/10).
El Niño merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik yang dapat mengubah pola cuaca di berbagai wilayah dunia. Dampaknya berbeda-beda di setiap kawasan.
Dia menjelaskan El Nino menyebabkan proses pengiriman dan distribusi BBM yang biasanya menggunakan media sungai jadi terhambat karena mengalami kekeringan. Kondisi tersebut mengharuskan distribusi BBM dialihkan menjadi truk yang kapasitasnya tidak sebesar kapal di sungai.
Meski sempat terjadi antrean, dia menyebut dari sisi stok BBM Indonesia dalam kondisi aman, dengan ketahanan mencapai 18-20 hari yang selalu tersedia.
“Kami juga bekerja sama dengan Pemda untuk memitigasi kondisi di lapangan (terkait BBM),” ujarnya.
Terjadi di Kalimantan
Kementerian ESDM sebelumnya mengatakan pengiriman komoditas batu bara dan BBM mengalami kendala imbas surutnya sungai di sana. Padahal, sungai menjadi salah satu jalur distribusi yang digunakan untuk mengangkut komoditas energi di wilayah itu.
Ada sejumlah tongkang atau kapal pengangkut bahan curah dan berat yang terpantau tidak bergerak. Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, memastikan hal tersebut dipengaruhi oleh kondisi sungai yang surut.
“Itu (tidak bergerak) bukan karena produksi (batu bara) dibatasi, tetapi karena air sungai yang digunakan untuk mengangkut tongkang tidak ada,” kata Yuliot saat ditemui seusai Indonesia EBTKE Conference & Exhibition 2026 Jakarta, Rabu (2/9).
Dia menyebut pihaknya telah memeriksa kondisi sungai di Kalimantan Timur sebelumnya. “Sungainya mengering sehingga tongkangnya tidak bisa jalan,” ujarnya.
Tak hanya batu bara, kelangkaan BBM yang terjadi di Kalimantan disebabkan sungai yang surut. Kondisi tersebut menjadi kendala bagi kapal distribusi energi.
“Di Kalimantan ini banyak terjadi. Saat ini, sungai ini mengalami kondisi surut, sehingga kapal-kapal yang biasanya mengirimkan melalui jalur sungai terkendala untuk proses pengiriman BBM,” ujar Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Laode Sulaeman, dikutip dari Antara, Rabu (2/9).