Harga BBM Non-Subsidi dan Avtur Tak Berubah pada Oktober, Apa Penopangnya?
Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dan bahan bakar pesawat (Avtur) tak berubah per Oktober 2026. PT Pertamina (Persero) pun mengungkapkan alasan yang mendasarinya.
Sepanjang bulan lalu, tren harga minyak dunia cenderung naik yang dipengaruhi oleh eskalasi di Timur Tengah dan ketegangan antara Rusia-Ukraina.
“Posisi per Oktober itu memang ada arahan untuk harga seluruh JBU (BBM non-subsidi retail dan Avtur itu masih kami tahan sama dengan harga September,” kata Direktur Perencanaan dan Pertumbuhan Bisnis Pertamina Patra Niaga Joko Pranoto dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026, yang dipantau secara daring melalui kanal YouTube Kemendagri, Senin (5/10).
Joko mengatakan sebetulnya harga BBM non-subsidi dan Avtur cenderung landai pada periode Januari 2025 hingga awal tahun ini.
Pergerakan harga baru dimulai ketika meletus perang antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran pada akhir Februari 2026. Konflik geopolitik ini menyebabkan kenaikan harga BBM yang sangat signifikan dan dirasakan hampir seluruh produk BBM non-subsidi dan Avtur.
“Mungkin khusus produk Pertamax dan Pertamax Green sejak April itu memang ada pembatasan, (sehingga harga) tidak naik, baru kemudian di Juni dinaikkan,” ujarnya.
Meski harga BBM non-subsidi mengalami volatilitas, dia menyebut harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar tidak berubah. Sebab, pemerintah telah memutuskan harganya tetap hingga akhir tahun ini.
Harganya masih kompetitif
Meski tarif BBM dan Avtur tak naik bulan ini, dia menyebut harganya secara umum masih kompetitif dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, Australia, Pakistan, dan India. Hal ini disebabkan salah satu komponen harga BBM adalah pajak. Dia mengatakan ketika harga bahan bakar naik, besaran pajaknya juga bertambah.
“Makanya terlihat di beberapa negara itu mengontrol kenaikan harga walaupun ujungnya juga masih relatif tinggi itu dengan mekanisme tax reduction gitu,” ucapnya.
Beberapa negara yang melakukan pengurangan pajak adalah Vietnam. Negara seperti Brunei Darussalam, Kamboja, dan Laos juga tidak mengenakan biaya FAT, sementara Malaysia mengendalikan harga Avtur dari sisi pajak.
Joko menyebut perusahaan saat ini masih terus berusaha menekan harga bahan bakar, baik BBM maupun Avtur, dengan tidak benar-benar menyesuaikan tarifnya dengan harga di pasar dunia.
“Ini terlihat kalau komparasinya memang secara umum kita relatif masih lebih murah daripada negara sekitar,” katanya.
Harga BBM Oktober 2026
Pertamina Patra Niaga mengatakan tidak ada perubahan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi per 1 Oktober 2026. VP Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga Kitty Andhora mengatakan harganya masih mengacu pada periode bulan sebelumnya.
“Per 1 Oktober harga BBM baik Subsidi dan Non Subsidi masih tetap sama dengan harga per bulan September,” kata Kitty kepada Katadata, Kamis (1/10).
Dia menyebut harga BBM yang tidak berubah ini berlaku baik untuk produk subsidi maupun non-subsidi. Kitty mengatakan keputusan harga yang tidak berubah ini mempertimbangkan sejumlah faktor.
“Adapun untuk BBM Non Subsidi, dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat maka sampai saat ini masih diterapkan harga yang sama dengan periode sebelumnya,” ujarnya.
Berikut daftar harga BBM Pertamina per 2 September 2026:
Pertamax Turbo (RON 98): Rp19.600 per liter
Dexlite: Rp23.700 per liter
Pertamina Dex: Rp25.200 per liter
Pertamax (RON 92): Rp15.950 per liter
Pertamax Green 95: dari Rp16.600 menjadi Rp19.150 per liter
Pertalite (subsidi): Rp10.000 per liter
Biosolar (subsidi): Rp6.800 per liter
Tak hanya Pertamina, di laman resmi Shell Indonesia juga tidak ada perubahan harga. Besaran tarif BBM masih dipatok menggunakan harga periode September 2026. Berikut daftarnya:
BP-AKR
BP 92: Rp16.130 per liter
BP Ultimate: Rp19.330 per liter
BP Ultimate Diesel: Rp25.420 per liter
Shell
Shell Super: -
Shell V-Power: -
Shell V-Power Diesel: Rp25.420 per liter
Shell V-Power Nitro+: -
Vivo
Revvo 92: Rp16.130 per liter
Revvo 95: Rp19.330 per liter
Diesel Primus: Rp25.420 per liter