Harga Minyak Naik Seiring Meningkatnya Konflik di Timur Tengah

Vecteezy.com/Fahim Hamim
Ilustrasi kenaikan harga minyak. Iran memperingatkan harga minyak dunia bisa tembus US$ 200 per barel seiring dengan penutupan Selat Hormuz dan intensitas serangan Iran terhadap kapal-kapal asing di perairan Teluk Persia.
14/10/2026, 09.41 WIB

Harga minyak acuan dunia naik seiring meningkatnya serangan di Timur Tengah. Hal ini menambah ketidakpastian terhadap pemulihan arus pasokan energi dari Teluk Persia.

 Harga Brent naik 0,8% menjadi US$ 106,54 per barel pada pukul 08.24 waktu Singapura. Sementara West Texas Intermediate (WTI) naik 0,8% menjadi US$ 94,92 per barel.

Kondisi geopolitik di Timur Tengah masih memanas, eskalasi serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz mengancam pemulihan pasokan dari Teluk Persia ke tingkat yang mendekati kondisi sebelum perang. Meski demikian, Amerika Serikat (AS) menyatakan telah membantu pengiriman lebih dari 19 juta barel minyak mentah melalui jalur perairan tersebut.

 Di wilayah lain, Arab Saudi mencegat lebih banyak rudal dan drone yang diluncurkan oleh kelompok Houthi Yaman yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Kantor pusat raksasa minyak Saudi Aramco di wilayah timur kerajaan tersebut terkena serangan terbaru.

Harga Brent telah melonjak lebih dari 70% sepanjang tahun ini karena perang AS-Iran mengguncang pasar energi. Risiko meningkat setelah Houthi menyerang bandara utama Riyadh pekan lalu dan pasukan yang didukung Arab Saudi melancarkan operasi untuk merebut kembali wilayah Yaman yang dikuasai pemberontak. 

 Serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz juga mendorong semakin banyak kapal tanker super untuk berbalik arah dan menjauhi Teluk Persia.

 “Ekspor minyak mentah masih berlangsung, tetapi ketidakpastian terkait hal tersebut tetap tinggi,” kata para analis Morgan Stanley, termasuk Martijn Rats, dikutip dari Bloomberg, Rabu (14/10).

 Dalam catatan tersebut, bank itu menaikkan proyeksi harga acuan fisik Dated Brent sebesar US$ 5 per barel untuk kuartal ini dan kuartal berikutnya. 

 Serangan baru terhadap kerajaan tersebut menambah tekanan terhadap Washington untuk meningkatkan dukungan kepada sekutunya. Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya mungkin akan meminta Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk bergabung dalam respons terhadap serangan Houthi terhadap Arab Saudi.

 Meski diserang, produksi minyak Arab Saudi terus pulih. Kerajaan tersebut melaporkan kepada Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) bahwa produksi minyak mentahnya melonjak sepertiga pada bulan lalu, pulih dari level terendah dalam lebih dari tiga dekade. Namun, produksinya masih jauh di bawah tingkat sebelum perang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Mela Syaharani