Investasi Industri Kimia Hulu Capai Rp 525 T, Banten jadi Tujuan Utama

Dok Chandra Asri
Ilustrasi. Cilegon, Banten menjadi pusat investasi industri kimia hulu dengan investasi mencapai US$ 27,29 miliar pada 2022-2030.
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Agustiyanti
29/2/2024, 20.10 WIB

Kementerian Perindustrian memproyeksi nilai investasi industri kimia hulu pada 2022-2030 mencapai US$ 33,68 miliar atau setara Rp 525 triliun  dengan asumsi kurs Rp 15.600 per dolar AS pada 2022-2030. Seluruh proyek tersebut terbagi dalam 14 proyek yang di penjuru negeri.

Direktur Industri Kimia Hulu Kemenperin Putu Nadi Astuti mengatakan Cilegon, Banten menjadi pusat investasi tersebut atau mencapai US$ 27,29 miliar. Perusahaan yang akan berinvestasi di Cilegon adalah PT Chandra Asri Pacific Tbk, PT Lotte Chemical Titan Tbk, PT Cabot Asia Pacific South, dan PT Sulfindo Adiusaha.

"Investasi yang akan cukup cepat terealisasi dilakukan oleh Lotte Chemical diharapkan sudah mulai beroperasi secara komersial tahun depan," kata Putu di Bandung, Kamis (29/2).

Lotte Chemical akan membangun pabrik dengan kapasitas produksi 2,45 juta ton senilai US$ 4 miliar. Adapun Chandra Asri berencana mebangun pabrik keduanya dengan kapasitas produksi 4,71 juta ton di Cilegon. Pabrik tersebut akan memakan investasi hingga US$ 5 miliar atau Rp 63,1 triliun dan beroperasi pada 2029.

Cabot Asia berencana membangun pabrik carbon black berkapasitas produksi 90.000 ton per tahun. Namun, Putu belum merinci nilai investasi maupun target pengoperasian pabrik tersebut.

Selain itu, Sulfindo berencana ekspansi pabrik dengan menambah kapasitas produksi sebanyak 500.000 ton per tahun. Ekspansi tersebut ditaksir menelan investasi hingga US$ 193 juta, tetapi target penyelesaian proyek tersebut belum ditentukan.

Putu mengatakan, industri petrokimia di dalam negeri berpotensi berkembang lantaran kekuatan pasar yang besar. Selain itu, industri petrokimia nasional dapat mengurangi ketergantungan bahan baku impor.

Walau demikian, Putu mengakui industri petrokimia adalah industri padat modal beresiko tinggi. Ini karena  periode balik modal investasi di industri petrokimia tinggi dan harga produknya cukup fluktuatif di pasar global.

"Memang industri petrokimia ini jumlahnya tidak banyak, namun bisa memasok banyak bahan baku untuk industri hilirnya," ujarnya.

Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy Chandra Asri Edi Rivai menjelaskan nilai tambah yang dihasilkan industri petrokimia adalah 900 kali lipat. Bahan baku industri tersebut adalah produk sampingan dari pemurnian minyak bumi, yakni Naphta.

Edi menyatakan, pihaknya masih bergantung pada impor dalam memasok Naphta ke dalam negeri. Menurutnya, Chandra Asri mengimpor sekitar 2,5 juta ton Naphta per tahun untuk memproduksi bahan baku plastik.

"Naphta kalau tidak diolah biasanya langsung dibakar. jadi, kami ambil Naphta tersebut dan diolah jadi produk bernilai tambah. Tantangan kami saat ini adalah bagaimana mengurangi ketergantungan Naphta impor," ujarnya.

Berikut daftar investasi di industri kimia hulu 2023-2030:

PT Bukit Asam Tbk dan PT Pertamina
Lokasi: Sumatra Selatan
Proyek: Gasifikasi batubara
produksi: Dimetil Eter 1,4 juta ton per tahun
Investasi dan target produksi: N/A

Chandra Asri
Lokasi: Banten
Proyek: Pabrik kedua bahan baku plastik
produksi: Bahan Baku Plastik 4,71 juta ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 5 miliar pada 2029

Lotte Chemical
Lokasi: Banten
Proyek: Pabrik bahan baku plastik
produksi: Bahan baku plastik 2,54 juta ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 4 miliar pada 2025

Cabot Asia
Lokasi: Banten
Proyek: Pabrik bahan baku ban
produksi: Carbon black 90.000 ton per tahun
Investasi dan target produksi: N/A

Sulfindo
Lokasi: Banten
Proyek: Ekspansi pabrik
produksi: tambahan produksi 500.000 ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 193 juta

Pertamina dan PT Polytama Propindo
Lokasi: Jawa Barat
Proyek: Bahan baku plastik
produksi: Bahan baku plastik 565.000 ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 322 juta pada 2027

 PT Pupuk Kalimantan Timur
Lokasi: Kalimantan Timur
Proyek: Pabrik abu soda dan ammonium chloride
produksi: abu soda dan ammonium chloride 600.000 ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 233 juta pada 2025

PT. Bumi Resources Tbk
Lokasi: Kalimantan Timur
Proyek: Gasifikasi batu bara
produksi: amonia 600.000 ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 705 juta pada 2026

Kawasan Industri Petrokimia Teluk Bintuni
Lokasi: Papua Barat
Proyek: Methanol to Olefin berbasis gas bumi
produksi: olefin 900.000 ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 1 miliar

PT Pupuk Kalimantan Timur
Lokasi: Papua Barat
Proyek: bahan baku pupuk
produksi: amonia dan urea sebesar 6 juta ton per tahun
Investasi dan target produksi: pada 2027

PT Petrokimia Gresik
Lokasi: Jawa Timur
Proyek: Pabrik abu soda dan ammonium chloride
produksi: abu soda dan ammonium chloride 606.000 ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 282 juta pada 2025

PT. Trans Pacific Petrochemical Indotama
Lokasi: Jawa Timur
Proyek: bahan baku plastik dan aromatik
produksi: bahan baku plastik dan aromatik 284.000 ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 238 juta pada 2023

PT. Trans Pacific Petrochemical Indotama
Lokasi: Jawa Timur
Proyek: bahan baku plastik
produksi: bahan baku plastik 2,6 juta ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 238 juta pada 2023

 PT. Pertamina Rosneft
Lokasi: Jawa Timur
Proyek: bahan baku plastik dan aromatik
produksi: bahan baku plastik dan aromatik 5,29 juta ton per tahun
Investasi dan target produksi: US$ 18 miliar pada 2030

Reporter: Andi M. Arief