Pemerintah Klaim Bendungan Ciawi Berhasil Cegah Banjir di Jakarta

ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/foc.
Pedagang memindahkan barang dagangan yang terendam banjir luapan Kali Bekasi di pusat perbelanjaan Marga Jaya, Bekasi, Jawa Barat, Rabu (5/3/2025).
Penulis: Andi M. Arief
Editor: Sorta Tobing
7/3/2025, 15.09 WIB

Kementerian Pekerjaan Umum menyatakan sebagian besar wilayah Jakarta terhindar dari banjir pada awal pekan ini akibat pengoperasian Bendungan Ciawi dan Sodetan Ciliwung.

"Bendungan Ciawi sudah mampu menahan air sejumlah 2 juta meter kubik, tapi banjir masih terjadi karena hujan di hilir memang sangat ekstrem," kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PU Lilik Retno Cahyadiningsih di kantornya, Jakarta, Jumat (7/3).

Curah hujan tinggi sempat membanjiri wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) karena mencapai 356 milimeter per hari. Wilayah Bekasi mengalami dampak banjir terparah akibat curah hujan ekstrem tersebut.   

Kementerian akan melakukan beberapa langkah jangka menengah untuk mencegah banjir Bekasi terulang lagi, seperti pengerukan sedimentasi di Bendung Bekasi, Jawa Barat. Namun, menurut Lilik, aksi pengerukan harus dibarengi dengan penertiban penggunaan lahan oleh Pemerintah Kabupaten Bekasi.

Ia menemukan saluran air di hilir terkendala oleh permukiman yang ada di badan, bahkan tengah sungai. Hal ini sangat berbahaya karena daerah resapan sekitar sungai menjadi tidak efisien. "Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar bisa menertibkan permukiman tersebut," ujarnya.

Untuk rencana jangka panjang dalam mengurangi resiko banjir di Bekasi adalah mebangun kolam retensi. Namun, rencana ini belum masuk dalam diskusi pendanaan.

Sebelumnya, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti berencana membangun delapan kolam retensi di tiga sungai, yakni Sungai Bekasi, Sungai Cikeas, dan Sungai Cileungsi. Infrastruktur tersebut penting agar banjir Bekasi seperti yang terjadi pada pekan ini tidak terulang.

Kolam retensi berfungsi untuk menahan lonjakan debit air saat curah hujan tinggi terjadi. Sebab, banjir Bekasi terjadi karena curah hujan tinggi membuat debit air yang mengaliri Sungai Bekasi mencapai 1.142 meter kubik per detik, sedangkan kapasitasnya hanya 662,9 meter kubik per detik.

"Kalau tidak ada area tampung seperti kolam retensi, ya airnya langsung mengalir kencang ke Sungai Bekasi saat curah hujan tinggi," kata Diana kepada Katadata.co.id, pada Rabu lalu.

Delapan kolam retensi tersebut ada di kawasan Siti Rawani, Bojong Kulon, Koja, Rajuhmudik 1, Rajuhmudik 2, Bantaragebang, dan Kemang Pratama. Kedelapan kolam ini, menurut dia, akan segera dibangun tapi upaya pembebasan lahan akan menjadi tantangannya.

Diana juga berencana mengusulkan kegiatan pengendalian banjir di Kali Bekasi. Saat ini masih ada dua paket pengendalian banjir di Kali Bekasi yang dijadwalkan rampung tahun ini, yakni paket 6 dan 7.

Berdasarkan situs Indonesia.go.id, tujuan pengerjaan pengendalian banjir paket 6 dan 7 adalah normalisasi kanal Cikarang Bekasi Laut. Kanal tersebut akan menguras air dari Cikarang menuju Sungai Bekasi Hilir.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief