Presiden Direktur PT Freeport Indonesia (PTFI) Tony Wenas dan Direktur  PT Solder Tin Andalan Indonesia (Stania) An Sudarno menandatangani Heads of Agreement (HoA) jual beli timbal dan perak.

Komoditas tambang tersebut dihasilkan dari fasilitas Precious Metal Refinery (PMR) PTFI.  Penandatanganan ini disaksikan Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi Todotua Pasaribu, dan  Direktur Utama PT Arsari Tambang Aryo Djojohadikusumo di Batam, Kamis (10/7). 

Tony menjelaskan, di dalam kesepakatan ini PTFI akan memasok bahan baku berupa perak dan  timbal yang dihasilkan dari fasilitasi PMR PTFI ke Stania untuk produksi solder tin.

“PTFI  memproduksi perak dan juga by product lainnya seperti timbal. Itu yang kemudian akan kita  supply ke Stania untuk campuran solder tin. Jumlah kira-kira 10 ton perak per tahun dan 250 ton  timbal per tahun,” kata Tony melalui keterangan tertulis, Sabtu (19/7).

Menurut Tony, permintaan logam hasil pemurnian PTFI di dalam negeri sangat penting. Pihaknya berharap industri dalam negeri akan menyerap dan sekarang memang terbukti permintaannya ada. 

“Bukan hanya PT Stania saja namun kami juga berharap ada yang lainnya yang  membutuhkan logam-logam hasil pemurnian kita untuk dikonsumsi dalam negeri, sehingga ekosistem hilirisasi yang berkaitan dengan produk lanjutan dan juga ekosistem EV bisa cepat  tercapai sesuai dengan harapan pemerintah,” ujar Tony. 

Precious Metal Refinery (PMR) PTFI menjadi salah satu produsen emas dan perak batangan di  Indonesia dengan kapasitas pemurnian sekitar 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun serta  Platinum Group metals yaitu 30 kg platinum, 375 kg paladium. 

“Pada Juli, PMR PTFI telah memproduksi perak batangan. Estimasi saat ini hingga akhir tahun  2025, PTFI akan memproduksi perak sebesar 100 ton. Sementara untuk produksi timbal sebanyak 2 ribu ton per tahun,” ucap Tony. 

Tony mengimbuhkan, penandatanganan HoA di antara Freeport Indonesia dengan Stania  merupakan komitmen dalam mewujudkan hilirisasi di dalam negeri. Menguatkan pernyataan  tersebut, Direktur Stania Sudarno menjelaskan sinergi di antara PTFI dengan Stania merupakan  langkah penting dalam mewujudkan kemandirian Indonesia di sektor pertambangan, terutama  dalam hilirisasi perak. 

“Perak dan timbal diperlukan sebagai paduan untuk memproduksi solder tin. Kebutuhan Stania  untuk timbal saat ini sebanyak 250 ton per tahun. Sementara pada titik awal ini kebutuhan akan  perak 10 ton per tahun,” ujar Sudarno.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.