Pedagang Daging Sapi Mulai Berjualan Usai Mogok, tapi Distribusi Belum Normal
Pasca batalnya aksi mogok dagang pedagang daging sapi, sejumlah kios daging di pasar tradisional mulai kembali beroperasi. Namun, aktivitas jual beli belum sepenuhnya pulih karena pasokan daging dari rumah potong hewan (RPH) belum kembali normal.
Berdasarkan pantauan di Pasar Jaya Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (23/1) pukul 09.12, pedagang daging memang membuka kiosnya. Meski demikian, tidak semua pedagang berjualan, dan kios yang buka pun belum menjual daging sapi utuh.
Di pasar tersebut, hanya terlihat dua pedagang daging yang kembali membuka lapak. Keduanya tidak menjual daging sapi, melainkan hanya menjajakan tulang dan iga. Rak daging yang biasanya dipenuhi potongan daging sapi tampak kosong, sementara tulang-tulang sapi disusun seadanya di meja jualan.
Salah satu pedagang daging di Pasar Minggu, Sunardi, mengatakan dirinya membuka kios hanya untuk menjual tulangan karena belum menerima pasokan daging dari jagal.
“Saya buka juga cuma jual tulang-tulangan sama iga aja. Dagingnya belum ada dari jagalnya,” ujar Sunardi saat ditemui di kiosnya, Jumat (23/1).
Ia menjelaskan, rencana mogok dagang sebenarnya sempat dilakukan pedagang di pasar tersebut. Bahkan, ia mengaku menutup kiosnya pada hari sebelumnya di Kamis (22/1). Namun, setelah ada kesepakatan, pedagang diminta kembali berjualan meski pasokan belum sepenuhnya tersedia.
“Kemarin mah memang tutup. Tadinya mau mogok, tapi hari ini bisa jualan lagi. Cuma ya itu, adanya tulang-tulangan aja,” katanya.
Sunardi menyebut distribusi daging sapi diperkirakan baru kembali berjalan pada malam hari nanti. “Nanti malam paling baru ada. Katanya kemarin malam baru mulai jalan kesepakatannya. Hari ini belum ada distribusi dari jagal,” ujarnya.
Ia juga menyinggung harga daging sapi yang dinilai masih tinggi. Sebelum mogok, daging sapi di tingkat pedagang dijual di kisaran Rp130.000 hingga Rp140.000 per kilogram.
“Kemarin kita jual di 13–14-an (Rp130.000 – Rp140.000). Pada mahal naruh harganya. Kita mah pedagang aja, tukang potong. Kalau yang di atas mogok, ya kita setop dulu,” ujarnya. Meski demikian, saat ditanya harga terbaru usai batal mogok, Sunardi masih mengatakan akan mengikuti harga sebelumnya hingga ada kesepakatan terbaru.
Pantauan serupa juga terjadi di Pasar PSPT Tebet Timur, Jakarta Selatan. Di pasar tersebut, hanya satu pedagang daging yang terlihat berjualan. Pedagang itu pun mengaku hanya menghabiskan sisa stok tulang yang masih tersedia.
Penjual daging di Pasar PSPT Tebet Timur, Iwan, mengatakan saat ini dirinya hanya menjual tulangan yang tersisa dan belum mendapatkan pasokan daging segar.
“Ini sisa stok tulangan aja, buat sop, buat masak rumahan. Daging belum ada,” kata Iwan, ditemui di kiosnya.
Ia menuturkan, pada hari sebelumnya seluruh pedagang daging di pasar tersebut sempat tidak berjualan. Setelah ada imbauan untuk kembali berdagang, kios-kios mulai dibuka meski tanpa pasokan daging.
Iwan menyebut dirinya berencana mengambil pasokan ke rumah potong pada malam hari. Namun, hingga siang hari, informasi distribusi daging belum ia terima.
“Nanti malam mau ambil ke rumah potong. Hari ini kayaknya belum keinfo, jadi belum ada pasokan,” katanya.
Iwan mengungkapkan harga jual daging saat ini berada di kisaran Rp130.000 per kilogram jika kembali berjualan.
Ia menyebut harga di tingkat rumah potong juga masih tinggi. “Di rumah potongnya udah tinggi, sekitar 105 ribuan (Rp105.000) per kilo, itu masih termasuk tulang. Jadi kita juga jual agak mahal. Seret juga kalau ditawar sama pembeli lagi,” ujarnya.
Meski kios-kios mulai kembali dibuka, kondisi pasar dinilai belum sepenuhnya normal. Ketiadaan stok daging membuat aktivitas jual beli belum pulih, meski pedagang sudah kembali berjualan. “Jualan sih udah pada buka lagi. Tapi kalau enggak ada stok, mau jual apa?” kata Iwan.
Pedagang Daging Sepakat Kembali Jualan
Pembatalan aksi mogok jualan dilakukan setelah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia alias APDI mendapat kesepakatan dengan pemerintah.
“Semua pihak hadir dan kami sudah menemukan kesepakatan,” kata Sekretaris Jenderal APDI, Yayan Suryana, dalam keterangannya, Kamis (22/1).
APDI menggelar pertemuan dengan perwakilan pemerintah dan pelaku usaha terkait. Pertemuan tersebut dihadiri Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian, Badan Pangan Nasional (Bapanas), perwakilan pedagang, feedlotter, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya. Dalam pertemuan antara APDI dan pemerintah dan pihak terkait disepakati harga sapi bakalan di tingkat timbang hidup
Dalam pertemuan antara APDI dan pemerintah dan pihak terkait disepakati harga sapi bakalan di tingkat timbang hidup dan timbang faktur berada di kisaran Rp55.000 per kilogram hingga Lebaran.
Selain itu, pemerintah berjanji tidak ada pembatasan perdagangan kuota sapi hidup yang dapat mengganggu pasokan. “Insyaallah sapi tidak akan ada kuota. Kalau sampai itu terjadi, silakan laporkan kepada saya dan akan langsung kami laporkan ke pemerintah,” ujarnya.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menurunkan satuan tugas (satgas) untuk menyelidiki dugaan permainan harga daging sapi di tengah aksi mogok pedagang daging sapi di Jabodetabek.
“Satgas kami sudah saya minta langsung turun cek mulai hari ini. Kami akan telusuri siapa yang bermain, apakah dari penggemukan, distributor, atau pihak lain. Pasti ketemu nanti,” kata Amran di kantornya, Kamis (22/1).
Amran menegaskan akan menindaklanjuti lonjakan harga daging sapi di tingkat konsumen. Ia menyebut tak akan ragu mencabut izin impor sapi bakalan bagi pengusaha jika ditemukan pelanggaran.
“Hampir pasti izinnya saya cabut kalau coba-coba main harga. Impor sapi bakalan itu dari saya. Kalau saya temukan, 99 persen izinnya saya cabut dan tidak boleh lagi berbisnis di bidang itu,” kata dia.
Menurut Amran, pemerintah selama ini telah memfasilitasi impor sapi bakalan dengan total kuota mencapai 700.000 ekor untuk satu tahun, bukan hanya untuk kebutuhan Ramadan.
Ia belum bisa memastikan pihak yang diduga menaikkan harga peredaran daging di tingkat tertentu.