Harga Ayam Mulai Anjlok usai Lebaran, Pemerintah akan Jaga Harga
Harga ayam hidup di tingkat produsen mulai menunjukkan pelemahan usai periode Ramadan dan Idulfitri 2026. Dengan situasi ini, pemerintah menyiapkan langkah intervensi, khususnya di sektor hulu, guna mencegah dampak lebih lanjut terhadap peternak terutama skala kecil.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan pemerintah akan memanggil pelaku usaha di sektor bibit ayam atau day old chick (DOC) serta produsen pakan untuk mengendalikan harga.
“Sebagaimana arahan Bapak Menteri Pertanian sekaligus Bapanas, kami akan memanggil pelaku usaha DOC maupun pakan. Tentu juga kita akan memanggil pemain-pemain besarnya, agar bisa mengendalikan harga,” ujar Ketut dalam keterangan resmi, dikutip Senin (13/4).
Menurutnya, penurunan harga ayam hidup merupakan fenomena yang lazim terjadi setelah Idulfitri. Namun, pemerintah akan menjaga agar kondisi ini tidak merugikan peternak kecil.
“Jangan sampai peternak kita yang kecil terganggu oleh harga ayam yang turun. Tentu kami akan terus bergerak karena ini memang fasenya setelah Lebaran,” katanya.
Berdasarkan pantauan Bapanas, rata-rata harga ayam hidup di sejumlah daerah kini berada di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat produsen yang ditetapkan sebesar Rp 25.000 per kilogram.
Di Sumatra Selatan, harga ayam hidup tercatat sebesar Rp 21.938 per kg atau 12,25 persen di bawah HAP. Sementara di Sulawesi Selatan, harga masih berada di atas acuan yakni Rp27.409 per kg atau 9,64 persen lebih tinggi. Secara nasional, harga rata-rata berada di kisaran Rp 24.076 per kg atau 3,7 persen di bawah HAP.
Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat daging ayam ras menjadi salah satu komoditas penyumbang utama inflasi pada Maret 2026, baik secara bulanan maupun tahunan. Hingga pekan terakhir Maret, Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras mengalami kenaikan di 237 kabupaten/kota.
Namun memasuki awal April, tren kenaikan mulai mereda. Jumlah wilayah yang mengalami kenaikan IPH turun menjadi 148 kabupaten/kota, sementara daerah yang mengalami penurunan meningkat menjadi 125 kabupaten/kota.
Minta Pelaku Usaha Besar Serap Ayam
Ketut mengatakan penting untuk menjaga keseimbangan harga di seluruh rantai pasok, dari hulu hingga hilir. Penurunan harga di tingkat produsen seharusnya diikuti dengan penyesuaian harga di tingkat konsumen.
“Tapi harus berimbang. Tatkala di hulunya menurun, tentu kita harapkan di hilir ini juga harus turun. Jangan sampai di hulunya turun, kemudian hilirnya masih tinggi. Ini yang kasihan peternak,” ujarnya.
Untuk itu, pemerintah mendorong adanya kepastian penyerapan dari pelaku usaha besar agar harga di tingkat peternak dapat kembali stabil. “Kami harapkan bisa menyerap sehingga harga dari peternak sehingga kembali wajar,” kata Ketut.
Selain intervensi pasar, pemerintah juga menyiapkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) untuk jagung pakan guna menekan biaya produksi. Pada 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 678 miliar dengan target distribusi mencapai 242 ribu ton.
Program ini diharapkan dapat membantu peternak memperoleh pakan dengan harga lebih terjangkau sehingga margin usaha tetap terjaga di tengah fluktuasi harga ayam.
Sementara itu, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyebut pemerintah tengah menyiapkan solusi jangka pendek dan panjang.
Dalam jangka pendek, pemerintah akan meminta produsen pakan untuk menahan kenaikan harga. Adapun dalam jangka panjang, pemerintah berencana membangun pabrik pakan dan DOC milik negara.
“Solusi permanennya adalah membangun pabrik pakan dan DOC milik pemerintah. Jangka pendek kami akan panggil pabrik pakan agar tidak menaikkan harga,” ujar Amran.
Dari sisi indikator kesejahteraan, BPS mencatat indeks harga yang diterima peternak unggas terus mengalami peningkatan. Pada Maret 2026, indeks tersebut mencapai 138,19, tertinggi sejak 2023, dan meningkat dari 129,68 pada Desember 2025.