80% Bahan Baku Industri Susu Masih Impor, Rentan Terdampak Pelemahan Rupiah
Industri pengolahan susu nasional masih memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap bahan baku impor. Kondisi itu membuat industri tersebut rentan terdampak pelemahan nilai tukar rupiah, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan susu untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG).
General Manager Research and Development PT Indolakto, Tjatur Budi Lestijaman, mengatakan sekitar 80% kebutuhan susu nasional saat ini masih dipenuhi dari impor. Akibatnya, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpengaruh langsung terhadap biaya produksi industri.
"Karena 80% kebutuhan susu ini masih impor dan harganya terpaut dengan dolar AS, sedikit banyak memang ada pengaruh terhadap biaya bahan baku," ujar Tjatur dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara 2026, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta, Selasa (2/6).
Menurut dia, pelemahan rupiah memang meningkatkan biaya produksi industri susu. Namun, produsen susu merek Indomilk ini berupaya agar kenaikan biaya tersebut tidak sepenuhnya dibebankan kepada konsumen.
"Kami berkomitmen tidak akan meneruskan 100% kenaikan biaya itu kepada konsumen. Kami masih melihat masyarakat perlu memiliki daya beli yang terjangkau," katanya.
Untuk menekan dampak kenaikan biaya bahan baku, perusahaan menjalankan berbagai program efisiensi di pabrik dan rantai pasok. Langkah itu dilakukan agar harga susu tetap terjangkau sekaligus menjaga pasokan di tengah meningkatnya permintaan.
Tjatur mengakui kebutuhan susu meningkat cukup signifikan sejak pelaksanaan program MBG. Meski demikian, ia tidak merinci besaran kenaikan permintaan tersebut.
"Pengaruhnya cukup banyak. Kami juga harus meningkatkan kapasitas produksi," ujarnya.
Ia mengatakan, Indolakto tidak menjual produk susu secara langsung kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Produk perusahaan dipasarkan melalui distributor dan pasar umum, kemudian dibeli oleh SPPG sesuai kebutuhan.
Keterbatasan Pasokan Susu Segar Jadi Tantangan
Menurut Tjatur, keterbatasan pasokan menjadi salah satu tantangan utama dalam memenuhi kebutuhan susu yang terus meningkat akibat program MBG.
"Kekurangan pasokan cukup menjadi tantangan. Pertama, dari kapasitas produksi yang membutuhkan investasi mesin dan fasilitas baru. Kedua, dari sisi suplai bahan baku susu itu sendiri," katanya.
Industri pengolahan susu terpaksa mengombinasikan bahan baku lokal dengan susu impor, terutama dalam bentuk susu bubuk, karena produksi susu segar dalam negeri masih terbatas.
Sebagian besar produk susu yang beredar di pasar saat ini merupakan hasil rekombinasi atau rekonstitusi, yakni susu bubuk yang diolah kembali menjadi susu cair dengan standar kualitas yang setara.
Ia menuturkan rendahnya kontribusi susu lokal disebabkan oleh dua faktor utama, yakni jumlah populasi sapi perah yang masih terbatas dan produktivitas yang relatif rendah.
"Produksi susu dalam negeri hanya sekitar 20% dari kebutuhan nasional karena jumlah sapinya kurang dan produktivitasnya juga masih rendah," katanya.
Menurut dia, produktivitas sapi perah di Indonesia rata-rata sekitar 12 liter per ekor per hari. Angka tersebut jauh di bawah negara produsen susu seperti Australia yang dapat mencapai sekitar 30 liter per ekor per hari.
"Di Indonesia, tantangannya ada pada jumlah sapi dan produktivitasnya. Faktor pakan dan kondisi peternakan juga berpengaruh terhadap hasil produksi susu," ujarnya.
Sementara itu, pemerintah menyiapkan berbagai langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor. Dalam jangka pendek, pemerintah berupaya menjaga ketersediaan pasokan impor melalui kontrak pembelian jangka panjang guna mengurangi risiko fluktuasi harga dan pasokan global.
Selain itu, pemerintah mendorong efisiensi rantai pasok, penguatan koordinasi antara kementerian, industri dan peternak, serta memperluas akses pembiayaan berbunga rendah bagi peternak sapi perah.
Dalam jangka menengah dan panjang, pemerintah akan fokus meningkatkan produktivitas dan populasi sapi perah nasional melalui pengembangan peternakan rakyat serta penguatan kemitraan dengan industri pengolahan susu.
