Pasar Aviasi Indonesia Diprediksi Tumbuh Tiga Kali Lipat hingga 2045

ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/nz
Pekerja menyelesaikan produksi pesawat CN235 di Hanggar Final Assembly Line PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Bandung, Jawa Barat, Kamis (4/12/2025).
Penulis: Kamila Meilina
6/5/2026, 15.08 WIB

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyatakan pasar aviasi Indonesia memiliki prospek yang diprediksi akan tumbuh mencapai tiga kali lipat pada 2045, seiring meningkatnya jumlah penerbangan dan kebutuhan armada.

Agus mengungkapkan, secara global industri pesawat terbang tengah berada dalam tren positif. Berdasarkan data McKinsey & Company, jumlah pesawat di dunia pada 2024 mencapai rekor tertinggi sebanyak 15.700 unit. 

Sementara itu, menurut International Air Transport Association, Indonesia diproyeksikan menjadi pasar penumpang terbesar keempat di dunia pada 2030.

“Tidak lama lagi kita akan menjadi pasar industri penerbangan terbesar keempat di dunia,” ujar Agus dalam Penandatanganan Nota Kesepahaman antara Kementerian PPN/Bappenas dengan Airbus Asia Pacific di Jakarta Pusat, Rabu (6/5). 

Lebih lanjut, ia menyatakan proyeksi dari International Civil Aviation Organization (ICAO) yang menunjukkan lonjakan signifikan pada penerbangan domestik Indonesia. 

Jumlah penumpang diperkirakan mencapai sekitar 7,4 juta, dengan total pergerakan penerbangan mendekati 690 juta pada 2045 atau meningkat hingga tiga kali lipat dibandingkan saat ini.

Seiring dengan meningkatnya permintaan tersebut, Agus menilai Indonesia perlu memperkuat kapasitas industri dirgantara nasional agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain dalam rantai pasok global. 

Industri Aviasi Lokal Mampu Penuhi Standar Internasional

Ia mengatakan, industri dalam negeri yang dimotori oleh PT Dirgantara Indonesia telah memiliki kapabilitas manufaktur yang mencakup desain, produksi pesawat, aerostruktur, hingga perawatan pesawat dan jasa engineering.

Ia menyebutkan, sejumlah produk PTDI telah mencapai tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang cukup tinggi, di antaranya NC212 sebesar 32,15%, CN235 sebesar 38,74%, C295 mendekati 21%, serta M219 yang hampir mencapai 45%.

Di sisi lain, peningkatan permintaan pesawat juga mendorong kebutuhan komponen serta layanan perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO). 

Agus mengungkapkan, saat ini terdapat 12 perusahaan industri komponen pesawat yang tergabung dalam Indonesia Aircraft and Component Manufacturers Association. Tujuh di antaranya telah mengantongi sertifikasi standar internasional AS 9100 dan terlibat dalam rantai pasok global.

Untuk sektor MRO, Indonesia memiliki 64 perusahaan yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk 35 perusahaan yang tergabung dalam Indonesia Maintenance Services Association. Meski demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti penurunan jumlah pesawat yang beroperasi serta tekanan biaya tinggi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina