Peternak Berencana Pangkas 30% Populasi Ayam Imbas Harga Telur Anjlok

ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/nz
Peternak memanen telur ayam ras di sentra peternakan ayam petelur Desa Kalisidi, Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Rabu (10/6/2026).
18/6/2026, 14.47 WIB

Harga telur ayam anjlok Rp5.000 per kilogram setelah lebaran. Kondisi yang terus berulang terjadi ini membuat peternak berencana untuk memangkas populasi ayam petelurnya untuk menekan biaya produksi.

Ketua Bidang Pemantau Harga Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), Samhadi, mengatakan harga telur di wilayah Jabodetabek yang sebelumnya berada di kisaran Rp27.000–Rp28.000 per kilogram kini turun menjadi sekitar Rp23.000 per kilogram.

Sementara itu, di wilayah Blitar, Jawa Timur, harga telur bahkan berada di level Rp21.000 per kilogram.

“Artinya memang penurunan sekitar antara Rp3.000-Rp5.000 per kilo ya dibanding sebelum lebaran,” ujar Samhadi kepada Katadata.co.id, Kamis (18/6). 

Pelemahan harga terjadi karena adanya beberapa faktor yang menekan sisi permintaan, terutama akibat pelemahan daya beli di tengah masyarakat. 

Selain faktor daya beli, masa peralihan tahun ajaran baru juga ikut memengaruhi konsumsi telur. Di sisi lain, penutupan atau berkurangnya operasional sejumlah dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) juga semakin memperlemah permintaan.

Menurut Samhadi, tekanan harga sebenarnya sudah terjadi sejak setelah Lebaran secara bertahap. Kondisi saat ini semakin berat karena adanya tambahan penurunan permintaan.

“Produksi telur yang sudah dihasilkan peternak akhirnya tidak terserap pasar,” ujarnya.

Bakal Pangkas Populasi Ayam hingga 30%

Dari aspek produksi, peternak sebelumnya meningkatkan produksi karena adanya harapan kenaikan permintaan. Hal tersebut mendorong sebagian peternak melakukan ekspansi dan memperpanjang umur produksi ayam petelur.

Namun, peningkatan pasokan justru terjadi ketika permintaan mengalami pelemahan. Kondisi tersebut menyebabkan terjadinya kelebihan pasokan atau oversupply.

“Ketika supply naik, tapi permintaan turun cukup dalam, akhirnya terjadi oversupply,” kata Samhadi.

Tekanan harga tersebut semakin berat karena biaya produksi peternak juga meningkat. Harga pakan ayam, kata Samhadi, naik dari sekitar Rp6.400 menjadi Rp7.300 per kilogram akibat kenaikan harga bahan baku pakan seperti soybean meal (SBM).

“Kenaikan pakan berdampak pada biaya produksi, sementara harga telur turun. Ini menjadi pukulan besar bagi peternak,” ujar dia.

Ia memperingatkan kondisi tersebut berpotensi membuat peternak mengurangi populasi ayam petelur secara nasional untuk menyesuaikan pasokan dengan permintaan pasar.

“Dalam pikiran peternak sekarang adalah bagaimana mengurangi supply, artinya populasinya harus dikurangi agar produksi turun,” katanya.

Samhadi menyebut pengurangan populasi ayam petelur bisa mencapai sekitar 30 persen. Langkah tersebut dilakukan agar keseimbangan antara produksi dan permintaan kembali tercapai.

“Kalau dihitung populasi di kandang, harus mengurangi sekitar 30% karena supply berlebihnya sekitar 20%,” ujarnya.

Sebelumnya, dalam koordinasi dengan Kementerian Pertanian, terdapat opsi penyesuaian umur afkir ayam petelur dari maksimal 100 minggu menjadi 90 minggu. Namun, menurut Samhadi, langkah pengurangan populasi bisa lebih agresif apabila kondisi harga tidak segera membaik.

Ia berharap pemerintah dapat mendorong pemulihan permintaan, termasuk dengan memastikan kembali operasional sektor pengguna telur agar harga dapat berangsur pulih.

“Kalau operasional kembali berjalan dan pemerintah mendorong penggunaan ayam serta telur, itu bisa berdampak pada kenaikan dan pemulihan harga,” katanya.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina