Indeks Keyakinan Industri Naik, Tapi Produsen Masih Tahan Stok Barang di Gudang
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Juli 2026 meningkat menjadi 53,10 atau naik 0,20 poin dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 52,90. Peningkatan menunjukkan sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi meski sempat menghadapi tekanan dari kenaikan harga gas industri dan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arif mengatakan, tekanan dari sisi produksi maupun permintaan berhasil diatasi sepanjang Juli sehingga optimisme pelaku industri kembali menguat.
"Pada bulan Juli 2026 ini, dua tekanan pada sisi produksi dan di sisi permintaan telah teratasi dengan baik sehingga nilai Indeks Kepercayaan Industri menjadi 53,10," ujar Febri dalam konferensi pers di kantornya, dikutip dari YouTube Kemenperin, Kamis (31/7).
Secara tahunan, IKI Juli 2026 juga meningkat 0,21 poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 52,89.
Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dipantau, sebanyak 22 subsektor berada pada fase ekspansi dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) industri mencapai 98,6%.
Sementara itu, satu-satunya subsektor yang masih mengalami kontraksi adalah industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki (KBLI 15). Adapun dua subsektor dengan nilai IKI tertinggi adalah industri minuman (KBLI 11) serta industri kendaraan bermotor, trailer, dan semi trailer (KBLI 29).
Febri menjelaskan, kenaikan IKI terutama ditopang oleh peningkatan komponen pesanan baru yang naik 0,45 poin menjadi 53,80. Penguatan tersebut didorong oleh meningkatnya permintaan dari sektor-sektor ekonomi, konsumsi rumah tangga, hingga belanja pemerintah terhadap produk manufaktur.
Menurut dia, sejumlah program pemerintah menjadi katalis utama peningkatan permintaan industri pada Juli 2026. Salah satunya adalah implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang mulai berjalan melalui operasional dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Mulai beroperasinya dapur SPPG dalam menjalankan program MBG telah meningkatkan permintaan produk manufaktur, seperti minyak goreng dan berbagai kebutuhan lainnya dalam proses pemenuhan program tersebut," katanya.
Selain MBG, implementasi program biodiesel B50 juga turut meningkatkan permintaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar domestik. Program pembangunan Koperasi Desa Merah Putih juga mendorong permintaan produk industri bahan galian nonlogam seperti semen, kaca, dan keramik, serta kebutuhan baja untuk konstruksi.
"Kemudian pembangunan tiga juta rumah juga meningkatkan permintaan terhadap berbagai produk manufaktur," ujar Febri.
Dari sisi investasi, Kemenperin mencatat sebanyak 152 industri baru mulai beroperasi di Indonesia sepanjang semester I/2026. Total nilai investasi industri tersebut mencapai Rp157,6 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 56.347 orang yang tersebar di 23 subsektor industri pengolahan.
Sementara itu, variabel produksi dalam pembentukan IKI juga meningkat 0,27 poin menjadi 54,55. Menurut Febri, hal tersebut mencerminkan ketahanan rantai pasok industri nasional meski menghadapi tekanan berupa kenaikan harga gas industri, pemadaman listrik, hingga kenaikan harga bahan baku impor.
"Kenaikan variabel produksi menunjukkan resiliensi rantai pasok industri dalam negeri masih cukup kuat menghadapi berbagai tekanan," ujarnya.
Industri Tahan Stok Gudang
Di sisi lain, variabel persediaan produk mengalami kontraksi menjadi 49,18 setelah turun 0,54 poin. Kondisi ini menunjukkan stok barang hasil produksi masih tertahan di gudang.
Febri menjelaskan, penumpukan stok bukan disebabkan melemahnya permintaan, melainkan strategi pelaku industri yang memilih menahan distribusi sambil menunggu kepastian arah kebijakan pemerintah dan perkembangan indikator makroekonomi.
"Industri menilai permintaan meningkat dan produksi juga naik, tetapi mereka masih wait and see terhadap beberapa kebijakan pemerintah maupun kondisi makroekonomi sebelum melepas stok ke pasar," katanya.
Meski demikian, pelaku industri mulai melihat stabilitas nilai tukar rupiah sebagai faktor positif yang dapat membantu perencanaan bisnis dan koordinasi rantai pasok ke depan.
Berdasarkan orientasi pasar, industri yang berorientasi ekspor masih mencatat IKI sebesar 53,95 atau tetap berada di zona ekspansi meski sedikit melambat dibandingkan Juni. Sementara industri yang berorientasi domestik mencatat IKI sebesar 51,99 dan mengalami percepatan dibandingkan bulan sebelumnya.
"Kondisi kegiatan usaha industri secara umum pada Juli 2026 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya, dan ekspektasi pelaku usaha terhadap aktivitas industri juga masih positif," ujar Febri.