BPS: Serapan CPO untuk B50 Berpotensi Tekan Ekspor Sawit pada Semester II 2026

ANTARA FOTO/Abdan Syakura/bar
Petugas mengalirkan bahan bakar biodiesel 50 persen (B50) ke dalam drum penyimpanan di Stasiun Blending dan Pengisian Bahan Bakar Uji Jalan B50, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (7/6/2026). Pemerintah menargetkan kebijakan penggunaan bahan bakar biodiesel 50 persen atau B50 di seluruh Indonesia akan dimulai pada 1 Juli mendatang setelah serangkaian pengujian penggunaan B50 di berbagai sektor seperti sektor otomotif, angkutan laut, mesin dan alat pertanian, mesin dan alat berat tambang, k
4/8/2026, 00.17 WIB

Badan Pusat Statistik (BPS) menilai implementasi program biodiesel B50 berpotensi menekan ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Indonesia pada semester II 2026. Hal itu seiring meningkatnya kebutuhan CPO untuk memenuhi permintaan pasar domestik sebagai bahan baku biodiesel.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, BPS belum melakukan proyeksi mengenai besaran dampak implementasi B50 terhadap ekspor CPO. Namun, peningkatan serapan CPO di dalam negeri berpotensi mempengaruhi volume ekspor.

“Kalau nanti B50 menyerap lebih banyak CPO untuk kebutuhan dalam negeri, tentu ada potensi ekspor tertahan. Tetapi kami belum menghitung secara spesifik dampaknya karena BPS tidak melakukan forecasting," kata Ateng dalam konferensi pers, di Jakarta, Senin (3/8). 

Ateng menuturkan, hingga semester I 2026 ekspor CPO masih mencatatkan pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski demikian, laju pertumbuhannya mulai melambat dibandingkan tahun sebelumnya. 

Menurutnya, perkembangan ekspor sawit pada paruh kedua 2026 akan dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk peningkatan konsumsi CPO di dalam negeri untuk program biodiesel. 

Secara keseluruhan, BPS mencatat nilai ekspor Indonesia pada Januari hingga Juni 2026 mencapai US$ 135,70 miliar, meningkat 4,13% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor nonmigas masih menjadi penopang utama dengan nilai US$ 128,55 miliar, naik 5,76% secara tahunan. 

Kinerja ekspor nonmigas didorong oleh sejumlah komoditas unggulan, antara lain lemak dan minyak hewani atau nabati, besi dan baja, serta logam mulia dan perhiasan. Di sisi lain, BPS menilai dinamika permintaan global dan kebijakan hilirisasi di dalam negeri juga akan mempengaruhi kinerja ekspor pada semester II 2026. 

Meski membuka peluang penurunan ekspor CPO akibat meningkatnya serapan domestik, BPS menegaskan belum dapat mengukur besaran dampaknya. Ateng menuturkan, BPS tidak menyusun proyeksi sehingga hanya menyampaikan potensi berdasarkan perubahan kebutuhan CPO untuk program B50. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman