Kejar Swasembada Gula, Pemerintah Siapkan 30.000 Hektare Tebu Baru di Lampung

ANTARA FOTO/Muhammad Mada/nz
Petani memanen tebu saat panen raya di Jatikalen, Nganjuk, Jawa Timur, Senin (20/7/2026).
Penulis: Kamila Meilina
28/8/2026, 11.04 WIB

Pemerintah menyiapkan perluasan areal tebu sekaligus peremajaan tanaman untuk mengejar target swasembada gula. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menyebut pengembangan areal tebu baru di Lampung kini telah mencapai sekitar 30.000 hektare.

Pengembangan areal baru itu merupakan bagian dari ambisi pemerintah untuk menambah ketersediaan bahan baku industri gula dan meningkatkan produksi gula nasional.

"Moga-moga bisa (produksi) 100 ton satu hektare," ujar Amran saat melakukan kunjungan kerja di Kecamatan Gedung Meneng, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, Rabu (26/8), dikutip dari siaran pers. 

Target swasembada gula sebelumnya diberikan Presiden Prabowo Subianto kepada Amran saat pelaksanaan Panen Raya Tebu di Malang pada 17 Juli 2026. Pemerintah menargetkan swasembada gula dapat dicapai dalam empat tahun melalui program peremajaan tebu seluas 100.000 hektare per tahun. Namun, Amran menyatakan target tersebut dapat dipercepat menjadi dua tahun.

Peremajaan Tanaman Tebu Rakyat

Selain membuka areal baru, pemerintah juga menyiapkan program peremajaan tanaman tebu rakyat. Amran menyebut sekitar 86% tanaman tebu rakyat atau plasma saat ini membutuhkan peremajaan.

Untuk menjalankan program tersebut, pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp1,7 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk membongkar tanaman lama yang dinilai sudah tidak layak produksi dan menggantinya dengan tanaman tebu baru.

"86% itu plasma, tebu rakyat yang tidak layak, dibongkar. Sehingga Bapak Presiden perintahkan, kami diberi anggaran Rp1,7 triliun untuk membongkar plasma-plasma ini menjadi tebu baru," kata Amran.

Program peremajaan ditargetkan selesai dalam tiga tahun. Menurut Amran, peremajaan diperlukan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus memperbaiki rendemen tebu.

"Kalau itu terjadi, insya Allah kebutuhan gula putih bisa cukup, bahkan lebih," ujarnya.

Produksi Gula Diproyeksikan Naik

Di sisi produksi, berdasarkan Taksasi Tengah Giling 2026, produksi Gula Kristal Putih (GKP) nasional diperkirakan mencapai 3,02 juta ton. Angka tersebut diproyeksikan meningkat sekitar 13,1% dibandingkan 2025.

Luas areal tebu pada 2026 diperkirakan mencapai 585.390 hektare, dengan produksi tebu sekitar 40,20 juta ton dan rendemen sebesar 7,51%.

Amran mengatakan pemerintah juga akan memberikan dukungan kepada pabrik gula untuk meningkatkan kapasitas dan produktivitas. Selain itu, peningkatan produksi didorong melalui peremajaan tanaman, penggunaan benih unggul, perbaikan budidaya, peningkatan rendemen, serta kemitraan antara pekebun dan pabrik gula.

"Semua pabrik gula unit usaha seluruh Indonesia kita dukung. Kita support supaya berproduksi tinggi," katanya.

Amran menilai rendemen menjadi salah satu faktor penting dalam peningkatan produktivitas tebu.

Kawasan Tulang Bawang merupakan salah satu sentra tebu di Lampung. Pengembangan sekitar 30.000 hektare areal baru di wilayah tersebut menjadi bagian dari rencana pemerintah menambah areal tanaman, bersamaan dengan program peremajaan tebu rakyat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina