Menghidupkan Kembali “Little Amsterdam” di Kota Tua

ANTARA FOTO/Reno Esnir/fzn/tom.
Pengendara sepeda melintas di depan lapak pedagang kaki lima di kawasan Kota Tua, Jakarta, Jumat (3/4/2026).
10/9/2026, 10.16 WIB

Jejak Batavia belum hilang dari sudut-sudut Kota Tua Jakarta. Bangunan tua bergaya Eropa, lorong-lorong bersejarah, hingga kawasan yang menyimpan banyak sejarah membuat wilayah ini pernah mendapat julukan “Little Amsterdam”

Warisan ini yang membuat kawasan tersebut memiliki wajah berbeda di tengah lanskap Jakarta yang semakin dipenuhi gedung-gedung modern. Seiring pengembangan MRT menuju kawasan tersebut, PT MRT Jakarta (Perseroda) ingin menjaga identitas itu sembari memberi kehidupan baru bagi kawasan Kota Tua.

Division Head Business Planning and Expansion Division MRT Jakarta, R Samuel Ryan Pradipta Pranowo mengatakan MRT tengah menyiapkan revitalisasi dengan konsep placemaking atau menghidupkan ruang kota. 

Identitas “Little Amsterdam” dan Chinatown akan dipertahankan, tetapi kawasan akan diisi dengan beragam aktivitas baru, mulai dari retail hingga kegiatan komunitas. Sama seperti yang sudah dikerjakan di Blok M Jakarta Selatan.

“Sebetulnya baru setengah jalan untuk revitalisasi blok M, dan konsep ini nanti akan diterapkan di Kota Tua, harapannya memang Jakarta dan area TOD MRT akan semakin liveable dan loveable,” ucap Samuel dalam paparannya bertajuk “Mengembangkan Kawasan sebagai Platform Kolaborasi dan Aktivasi” di Jakarta, Rabu (9/9). 

Samuel  mengatakan warisan sejarah Kota Tua dapat menjadi salah satu modal Jakarta untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara. Menurutnya, Jakarta tak hanya memiliki wajah modern dengan deretan gedung pencakar langit, tetapi juga kawasan bersejarah dengan karakter yang kuat.

Salah satunya terlihat dari arsitektur Kota Tua yang menyerupai sejumlah kawasan di Amsterdam dan Den Haag, Belanda. Samuel mengatakan beberapa bangunan di kawasan tersebut bahkan memiliki bentuk yang hampir identik dengan bangunan di Belanda.

Ia pun bercerita, jejak itu tak terlepas dari sejarah Batavia pada masa VOC. Para pedagang Belanda yang menetap di Batavia kala itu membangun sejumlah gedung dengan arsitektur yang menyerupai bangunan di kampung halaman mereka.

“Kalau ditelusuri, gedung-gedung yang ada di sini ternyata ada kembarannya di Amsterdam, di Den Haag. Bahkan bentuk gedungnya sama persis,” kata Samuel.

Menurut Samuel, jejak sejarah tersebut menjadi keunikan yang perlu dipertahankan ketika Kota Tua direvitalisasi. Samuel mengatakan konsep “Little Amsterdam” tidak dimaksudkan untuk menggantikan identitas lokal Kota Tua. Sebaliknya, konsep tersebut berangkat dari jejak sejarah panjang Batavia dan hubungan Indonesia dengan Belanda yang masih terlihat dari arsitektur kawasan hingga saat ini.

“Jadi memang heritagenya itu kita nggak mau hilangkan dan karakteristik dari namanya, makanya akan terus dibawa,” ucap Samuel. 

Menurut dia, pengembangan kawasan Kota Tua nantinya tetap mengedepankan karakter lokal. Namun, MRT Jakarta juga akan mempertahankan unsur sejarah dan budaya di sejumlah bagian kawasan sebagai daya tarik tersendiri. Apalagi  kawasan Batavia lama memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat perdagangan di kawasan Asia Tenggara.

MRT Jakarta TOD Placemaking

MRT Jakarta tidak sekadar mengandalkan pembangunan fisik untuk menghidupkan sebuah kawasan. Samuel mengatakan inti dari placemaking bukan sekadar mempercantik atau meramaikan, melainkan membangun sense of place atau keterikatan masyarakat terhadap suatu tempat. Karena itu, setiap kawasan perlu memiliki karakter dan makna yang membedakannya dengan tempat lain.

Konsep tersebut juga harus inklusif. Ruang kota tidak boleh hanya dinikmati kelompok tertentu, melainkan terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang dan kelompok ekonomi.

“Suatu tempat harus punya makna atau tema dan harus inklusif untuk siapa pun. Tidak cuma untuk segmen menengah ke atas atau menengah ke bawah, tetapi untuk semua masyarakat,” kata Samuel.

Samuel mengatakan terdapat empat unsur utama yang menentukan keberhasilan placemaking, yakni akses dan konektivitas, kenyamanan dan citra kawasan, keberadaan aktivitas, serta ruang untuk bersosialisasi.

Pertama, kawasan harus mudah dijangkau dan terhubung dengan berbagai moda transportasi. Kedua, masyarakat perlu merasa aman dan nyaman ketika berada di dalamnya. 

Namun, konektivitas dan kenyamanan belum cukup. Kawasan juga membutuhkan aktivitas yang terus bergulir, mulai dari acara, kegiatan komunitas, hingga aktivitas ekonomi. Samuel menyebut aktivitas tersebut perlu agar sebuah kawasan tetap hidup dan terus menawarkan pengalaman baru bagi pengunjung.

Prinsip lainnya adalah ruang untuk bersosialisasi. Menurut Samuel, aspek inilah yang membedakan placemaking dengan sekadar pusat perbelanjaan. Sebuah kawasan idealnya tidak hanya menyediakan tempat makan, berbelanja, atau menghadiri acara, tetapi juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertemu dan berinteraksi.

“Kalau orang sudah nyaman di situ, bisa kumpul sama komunitasnya, ketemu teman, janjian dan lain-lain, itu baru memenuhi konsep placemaking,” kata Samuel.

Konsep tersebut sekaligus untuk menghidupkan kembali kawasan yang kehilangan aktivitas ekonominya. Samuel mengatakan placemaking pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kualitas hidup dan kebahagiaan masyarakat.

Blok M menjadi salah satu contoh yang kini dikembangkan MRT Jakarta. Kawasan tersebut menawarkan beragam aktivitas dalam satu ruang, mulai dari kuliner, belanja, kegiatan komunitas hingga berbagai acara. Konsep serupa nantinya akan dibawa ke Kota Tua, tetapi dengan karakter yang disesuaikan dengan identitas sejarah kawasan.

Adapun MRT Jakarta memiliki 9 kawasan TOD yang tersebar dari Lebak Bulus hingga Kotatua–Glodok untuk mendukung transformasi kawasan perkotaan yang terintegrasi.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Nur Hana Putri Nabila