Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) buka suara terkait pemerintah yang akan menarik peredaran beras fortifikasi yang diduga palsu dari ritel dan pasaran.
Adapun, fortifikasi palsu yang dimaksud adalah kandungan beras fortifikasi yang tak sesuai dengan klaim gizi pada kemasan produk.
Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah menyatakan siap menarik beras fortifikasi dari pasaran apabila pemerintah menemukan produk yang tidak memenuhi ketentuan atau melanggar aturan perlindungan konsumen.
Selain itu, ia juga menyatakan para peritel siap mencari produk pengganti yang masih memenuhi ketentuan untuk menjaga ketersediaan beras di toko.
“Jadi kalau memang ada penindakan atau surat dari pemerintah, instansi terkait tentang tidak samanya atau pelanggaran konsumen, maka kami akan menarik secara otomatis dan akan mengembalikan ke supplier,” kata Budi kepada Katadata.co.id, Kamis (17/9).
Hal ini sebab peritel pada dasarnya menjual produk yang dipasok produsen. Karena itu, apabila terdapat penindakan atau surat resmi dari pemerintah terkait pelanggaran produk, peritel akan mengikuti keputusan tersebut.
Menurutnya, jika terdapat banyak produk beras yang terindikasi bermasalah dan pemerintah meminta penarikan, peritel akan segera menarik produk tersebut dari peredaran. Peritel kemudian akan mencari alternatif produk lain yang masih diperbolehkan untuk dijual.
“Kalau memang saat ini banyak yang diindikasikan, itu pasti akan kami tarik dan kami akan mencari alternatif pengganti yang masih boleh dijual,” ujarnya.
Ritel Kesulitan Dapat Beras Sesuai HET
Di sisi lain, Budihardjo mengatakan sektor ritel memang telah menghadapi kendala dalam memperoleh pasokan beras premium.
Salah satu persoalannya adalah harga eceran tertinggi (HET) yang membuat peritel kesulitan menemukan supplier yang dapat memasok beras sesuai harga tersebut.
“Memang sudah agak lama kesulitan karena adanya HET ini cukup membuat kami kesulitan mencari supplier yang bisa menjual dengan harga tersebut,” katanya.
Ia merujuk pada kasus kelangkaan pasokan beras premium yang dijual di ritel modern. Mayoritas produsen memasok beras ritel modern lewat jenis beras khusus, termasuk beras fortifikasi.
Beras fortifikasi sendiri merupakan beras biasa yang sengaja ditambahkan zat gizi mikro seperti vitamin dan mineral melalui proses teknologi pangan.
Sebelumnya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan adanya temuan beras fortifikasi yang kandungan gizinya tidak sesuai dengan klaim yang tercantum pada label.
“Katanya fortifikasi. Setelah kita cek di lab, ada empat lab, kredibel. Kita cek ternyata tidak sesuai dengan levelnya,” kata Amran dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (15/9).
Dari pemeriksaan terhadap 27 merek beras fortifikasi, pemerintah menemukan 25 merek yang tidak memenuhi kadar fortifikasi sesuai dengan label produk.
Pemeriksaan dilakukan melalui empat laboratorium untuk menguji kandungan zat gizi, vitamin, dan mineral dalam beras yang seharusnya sesuai dengan klaim fortifikasi pada kemasan.
Kementerian Pertanian menyatakan akan menarik produk beras yang tidak memenuhi ketentuan dari pasar. Pemerintah juga menyebut akan mencabut izin produksi dan memproses tindak lanjut sesuai regulasi yang berlaku.