SCG Kelola Sampah Rumah Tangga Jadi Bahan Bakar Industri
Persoalan sampah di Indonesia semakin mendesak untuk ditangani secara sistemik. Timbulan sampah nasional diproyeksikan mencapai 80 juta ton, sementara sampah plastik saja diperkirakan menembus 7,5 juta ton.
Dalam upaya berkontribusi menangani persoalan sampah, SCG mengubah sampah rumah tangga per hari di Sukabumi menjadi bahan bakar alternatif (alternative fuel/AF) untuk industri semen. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa ekonomi sirkular bisa jadi strategi bisnis, bukan sekadar kegiatan corporate social responsibility (CSR).
"SCG melihat sampah bukan hanya sesuatu yang perlu dikelola, tetapi sebagai sumber daya yang bisa dipulihkan kembali," ujar Anawat Pornpunyapat, President Director PT Semen Jawa (anak perusahaan SCG Indonesia) pada sesi diskusi Closing the Loop: Circular Economy as a Competitive Advantage di acara Katadata SAFE 2026, Kamis (17/09/26).
Di Sukabumi, SCG mengubah tekanan lingkungan menjadi peluang bisnis. Fasilitas pengolahan milik Refuse-Derived Fuel (RDF) SCG yang beroperasi sejak 2025 telah menyerap 62.790 ton sampah perkotaan. Selanjutnya sampah itu diolah menjadi Alternative Fuel (AF) untuk menggantikan bahan bakar konvensional di PT Semen Jawa, yang memiliki kapasitas produksi sekitar 2 juta ton semen per tahun.
"Kami menargetkan penggunaan bahan bakar alternatif hingga 70 persen pada 2030," ujar Anawat. Ia menambahkan bahwa target ini adalah bagian dari strategi bisnis jangka panjang SCG yang mendukung dua kepentingan sekaligus, yaitu dampak lingkungan dan ketahanan bisnis.
Anawat menambahkan, lewat kerangka 4P, yakni Public, Private, People, Partnership, SCG merangkul pemerintah daerah, sektor swasta, komunitas, dan mitra bisnis menjadi satu ekosistem yang saling menopang.
Model tersebut divisualisasikan SCG sebagai lima simpul yang saling terhubung: Semen Jawa sebagai unit produksi, Pemerintah Kabupaten Sukabumi sebagai regulator wilayah, komunitas yang direpresentasikan lewat SCG Mentari, dan jaringan Green Business Partner —seluruhnya bermuara pada satu prinsip bisnis perusahaan bertajuk Inclusive Green Growth.
Skema ini menegaskan bahwa bagi SCG, ekonomi sirkular bukan rantai linear satu arah, melainkan jaring kolaborasi lintas sektor yang saling menopang.
Pemerintah menyediakan basis regulasi dan wilayah operasi, komunitas menjadi sumber pasokan sampah terpilah, sementara mitra industri merepresentasikan sisi permintaan atas produk maupun kolaborasi pemanfaatan hasil olahan.
Keterhubungan ini terlihat jelas ketika ditelusuri dari hulu ke hilir. Di level rumah tangga, tekanan sampah di Kabupaten Sukabumi yang terus bertambah —827 ton per hari—sebelumnya hanya menumpuk dan menambah beban lahan tempat pembuangan akhir.
Sejak 2025, tekanan itu dialihkan lewat rantai proses yang jelas yakni sampah dikumpulkan, diproses, diubah menjadi RDF, hingga akhirnya menjadi bahan bakar alternatif untuk kebutuhan industri.
Konsistensi SCG Indonesia dalam menjalankan prinsip berkelanjutan turut mendapat pengakuan eksternal. Dalam ajang Katadata ESG Insight (KESGI) Award 2026 yang menjadi salah satu rangkaian acara Katadata SAFE 2026, SCG Indonesia meraih Apresiasi Inisiatif Tata Kelola Berkelanjutan untuk sektor material konstruksi.
Penghargaan tersebut diberikan kepada perusahaan dengan inisiatif ESG yang dinilai menonjol di sektornya. Salah satu langkah yang menjadi perhatian adalah pengelolaan sampah menjadi bahan bakar alternatif melalui kolaborasi lintas sektor yang dijalankan SCG Indonesia di Sukabumi.
Sebagai forum tahunan yang telah diselenggarakan sejak 2020, Katadata SAFE menjadi ruang bagi pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, dan masyarakat untuk bertemu dan membahas berbagai tantangan serta peluang menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Memasuki tahun ketujuh penyelenggaraannya, Katadata SAFE 2026 mengusung tema The Green Changer dan berlangsung pada 16–17 September 2026 di Sudirman Hall, Sequis Tower, SCBD Jakarta. Melalui rangkaian forum, lokakarya, pameran interaktif, serta kolaborasi lintas sektor, SAFE mendorong pertukaran gagasan dan aksi nyata untuk memperkuat ekonomi Indonesia yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.