Industri Padat Karya Bangkit, Furnitur dan Alas Kaki Tumbuh di Atas 11%

ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas/kye
Pekerja menyortir arang briket di sentra produksi arang Harapan Agri Sentosa, Kota Serang, Banten, Kamis (13/8/2026). Industri UMKM padat karya yang memberdayakan 60 warga lokal tersebut memproduksi dua ton briket per hari untuk memenuhi permintaan ekspor ke kawasan Timur Tengah dan Eropa sebanyak 25 ton per kontainer dalam sekali pengiriman, dengan nilai mencapai 11.000 dolar AS per kontainer.
23/9/2026, 15.08 WIB

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita menyebut industri padat karya nasional mulai bangkit, tercermin dari pertumbuhan subsektor furnitur, alas kaki dan kulit, makanan dan minuman, serta tekstil dan pakaian jadi pada triwulan II-2026.

Menperin menyampaikan 14 dari 15 subsektor industri di daerah ini mencatat pertumbuhan positif. Sejumlah subsektor yang mencatat pertumbuhan tertinggi berasal dari sektor padat karya, yakni furnitur sebesar 11,8 persen, alas kaki dan kulit 11,3 persen, makanan dan minuman 6,5 persen, serta tekstil dan pakaian jadi 6,4 persen.

"Ini industri padat karya, yang sekitar dua tahun lalu banyak diberitakan sedang melakukan PHK. Hari ini berdasarkan data kami, sektor-sektor tersebut justru sedang bangkit kembali," ujar Menperin dalam ANTARA Business Forum (ABF) 2026, di Jakarta, Rabu (23/9).

Menurut Agus Gumiwang, pertumbuhan industri padat karya memiliki dampak besar terhadap penyerapan tenaga kerja. Pertumbuhan satu persen pada industri padat karya dinilai mampu menyerap lebih banyak tenaga kerja dibandingkan pertumbuhan yang sama pada industri padat modal.

"Pertumbuhan di sektor ini adalah pertumbuhan yang langsung dirasakan oleh masyarakat," ujarnya lagi.

Di sisi lain, Agus mengakui masih terdapat subsektor yang menghadapi tekanan. Subsektor karet, barang dari karet, dan plastik mengalami kontraksi sebesar 7 persen. Sementara itu, logam dasar, kertas, dan pengolahan tembakau mencatat pertumbuhan yang relatif rendah.

Selain itu, berdasarkan data Bank Dunia, nilai tambah manufaktur Indonesia pada 2025 mencapai 275,61 miliar dolar Amerika Serikat (AS), sehingga menempatkan Indonesia di peringkat ke-12 dunia.

Menurut dia, Indonesia juga menjadi negara dengan nilai tambah manufaktur terbesar di Asia Tenggara. Nilai tambah manufaktur Indonesia mencapai sekitar dua kali lipat Thailand yang berada di posisi kedua dengan 137 miliar dolar AS dan lebih dari dua kali Vietnam.

Menperin menambahkan, kontribusi industri terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional juga terus meningkat selama empat tahun berturut-turut, yakni dari 18,34 persen, 18,67 persen, 18,98 persen, hingga mencapai 19,07 persen pada 2025.

"Jadi ketika banyak negara sedang kehilangan industrinya, Indonesia sedang membangun kembali industrinya. Ini modal besar," ujarnya.

Menperin menyampaikan industri nasional memiliki modal penting berupa pasar domestik yang besar. Indonesia memiliki 287,2 juta penduduk dengan konsumsi rumah tangga mencapai Rp12.834,8 triliun per tahun. Sebanyak 78,39 persen produk manufaktur nasional juga dijual di pasar domestik.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.