Pertama Kali, Konsumsi CPO Domestik Diproyeksi Lampaui Ekspor pada 2026

ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/bar
Petani melakukan aktivitas bongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit hasil panen miliknya di Desa Cot Darat, Kecamatan Samatiga, Aceh Barat, Aceh, Jumat (17/7/2026). Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan menetapkan harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit tertinggi untuk perkebunan mitra plasma periode 15 hingga 28 Juli 2026 sebesar Rp3.718 per kilogram di Wilayah Timur dan Rp3.627 per kilogram di Wilayah Barat.
15/10/2026, 17.42 WIB

Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) memproyeksikan konsumsi minyak sawit mentah (CPO) domestik pada 2026 akan melampaui volume ekspor untuk pertama kalinya dalam proyeksi tahunan lembaga tersebut. 

Konsumsi dalam negeri diperkirakan mencapai 51,3% dari total penggunaan minyak sawit nasional, sedangkan porsi ekspor sebesar 48,7%.

Perubahan ini terjadi di tengah peningkatan kebutuhan minyak sawit untuk program biodiesel, terutama seiring implementasi mandatori biodiesel B50 sejak Juli 2026. Namun, pertumbuhan produksi yang terbatas berpotensi menambah tantangan dalam menjaga pasokan untuk kebutuhan domestik dan ekspor.

Laporan Outlook Industri Sawit Indonesia Q4 2026 oleh IPOSS mencatat perkiraan produksi minyak sawit nasional sepanjang 2026 mencapai 52,4 juta ton, naik 1,86% dibandingkan 2025. Sementara itu, konsumsi domestik diproyeksikan meningkat 7,4% menjadi sekitar 27,1 juta ton.

Di sisi lain, ekspor produk sawit Indonesia diperkirakan turun 15,4% menjadi 25,76 juta ton sepanjang tahun ini. Penurunan diproyeksikan lebih dalam pada kuartal IV 2026, ketika ekspor diperkirakan hanya mencapai 4,9 juta ton, merosot 37,2% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Perbedaan pertumbuhan produksi dan konsumsi domestik tersebut menunjukkan semakin ketatnya alokasi pasokan minyak sawit nasional. Meski demikian, IPOSS menilai perkembangan ekspor juga dipengaruhi dinamika permintaan dan perdagangan global.

Direktur IPOSS Nanang Hendarsah mengatakan, peningkatan kebutuhan domestik perlu diimbangi dengan pertumbuhan produksi agar pemenuhan kebutuhan energi tidak semakin membatasi ruang ekspor.

“Persoalannya bukan memilih antara biodiesel dan ekspor. Keduanya sama-sama penting bagi Indonesia. Tantangannya adalah memastikan produksi sawit mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan domestik, sehingga penguatan ketahanan energi tidak terus mempersempit ruang ekspor,” ujar Nanang.

Penurunan Ekspor Potensi Memengaruhi Pembiayaan Sawit

Peningkatan penggunaan minyak sawit untuk biodiesel juga memperkuat keterkaitan antara ketahanan energi, ketersediaan bahan baku industri, dan kinerja ekspor.

Ekspor sawit tidak hanya menjadi sumber devisa, tetapi juga menjadi salah satu basis penerimaan Pungutan Ekspor (PE). Dana tersebut digunakan untuk mendukung berbagai program strategis industri sawit, termasuk biodiesel dan Peremajaan Sawit Rakyat (PSR).

Penurunan volume ekspor berpotensi memengaruhi penerimaan pungutan tersebut. Namun, besaran penerimaan juga bergantung pada perkembangan harga dan kebijakan pungutan yang berlaku.

Karena itu, keberlanjutan program B50 perlu didukung oleh keseimbangan pasokan serta pengelolaan pembiayaan yang mampu menyesuaikan diri dengan perubahan pasar energi.

Nanang menilai, peningkatan produktivitas menjadi salah satu tantangan penting bagi industri sawit Indonesia. Tanpa peningkatan kemampuan produksi, pemenuhan kebutuhan energi domestik, keberlanjutan ekspor, dan pembiayaan program industri sawit akan semakin sulit diseimbangkan.

“Pasar sawit Indonesia terus berkembang, tetapi kemampuan produksinya belum tumbuh secepat kebutuhan. Tanpa terobosan produktivitas, keseimbangan antara kepentingan energi, ekspor, dan pembiayaan industri akan semakin menantang untuk dijaga,” kata Nanang.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Kamila Meilina