BULOG Siap Serap Potensi Surplus Jagung Nasional 300 Ribu Ton

BULOG
Ilustrasi panen jagung.
Penulis: Arif Hulwan
27/10/2026, 19.34 WIB

Jakarta – Perum BULOG menegaskan kesiapannya mengambil peran strategis sebagai penyangga pasokan jagung nasional melalui penguatan ekosistem kemitraan antara petani jagung, koperasi, dan peternak ayam petelur.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun sistem pangan terintegrasi dari hulu hingga hilir, dengan memastikan hasil panen petani memiliki kepastian pasar sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku pakan dengan harga terjangkau bagi peternak.

Komitmen tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Stabilisasi Ketersediaan Jagung Pakan bagi Peternak Layer melalui Kemitraan dengan Petani Penerima Bantuan Benih Jagung yang diselenggarakan di Kementerian Pertanian RI, dengan dihadiri Direktur Utama Perum BULOG Ahmad Rizal Ramdhani dan Direktur Pengadaan, Direktur Pemasaran, serta jajaran BULOG.

“BULOG siap menjalankan peran sebagai penyangga pasokan jagung nasional sesuai penugasan pemerintah. Kami ingin memastikan bahwa ketika petani menghasilkan produksi yang melimpah, ada mekanisme penyerapan yang memberikan kepastian pasar," jelas Ahmad Rizal.

"Pada saat yang sama, ketika peternak membutuhkan jagung untuk menjaga keberlangsungan produksinya, BULOG dapat hadir menyediakan pasokan melalui skema stabilisasi yang tepat sasaran,” lanjutnya.

Dalam rapat tersebut, pemerintah mendorong pembentukan ekosistem kemitraan berbasis koperasi yang menghubungkan langsung petani jagung sebagai produsen dengan peternak sebagai pengguna bahan baku pakan.

Melalui target pengembangan lahan seluas 300 ribu hektare dengan asumsi produktivitas rata-rata 7 ton per hektare, potensi produksi jagung diproyeksikan mencapai 2,1 juta ton per tahun.

Dari jumlah tersebut, sekitar 1,8 juta ton diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pakan peternak melalui koperasi dan kelompok peternak, sehingga tercipta hubungan pasokan yang lebih terencana, berkelanjutan, dan saling menguntungkan.

Untuk mengantisipasi potensi kelebihan produksi sekitar 300 ribu ton, BULOG disiapkan mengambil peran sebagai offtaker atau pembeli siaga yang menyerap surplus jagung petani.

Melalui pendekatan sistem resi gudang, jagung yang terserap dapat dikelola sebagai cadangan untuk memenuhi kebutuhan peternak pada periode ketika pasokan mulai terbatas, termasuk melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Skema ini diharapkan mampu mencegah tekanan harga saat panen melimpah sekaligus menjaga kesinambungan pasokan jagung pakan sepanjang tahun.

Kesatuan petani dan peternak

Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa pembangunan ekosistem jagung nasional harus menempatkan kepentingan petani dan peternak sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Ia juga menegaskan pentingnya peran BULOG sebagai instrumen pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasokan dan harga jagung, khususnya ketika terjadi surplus produksi maupun peningkatan kebutuhan pakan.

“Ketika produksi jagung melimpah, hasil panen petani harus tetap memiliki pasar. Di sinilah BULOG kita siapkan sebagai penyangga yang dapat menyerap kelebihan produksi, mengelola cadangannya, dan menyalurkannya kembali ketika peternak membutuhkan," ujar Mentan.

"Kita dahulukan kepentingan petani dan peternak Indonesia agar keduanya terlindungi dan usaha mereka terus berjalan,” lanjutnya.

Ahmad Rizal menambahkan bahwa peran BULOG tidak berhenti pada penyerapan hasil panen, tetapi juga memastikan cadangan jagung dapat dikelola secara optimal untuk mendukung keberlanjutan usaha peternakan rakyat.

“Yang ingin kita bangun adalah sistem yang saling menguatkan. Jagung hasil produksi petani dalam negeri diserap dan dikelola dengan baik, kemudian dimanfaatkan kembali untuk memenuhi kebutuhan peternak melalui SPHP sesuai ketentuan pemerintah," kata dia.

"Dengan begitu, petani mendapatkan kepastian penyerapan, peternak memperoleh akses pakan yang lebih terjangkau, dan stabilitas pasokan dapat terus kita jaga,” ujar Rizal.

Penguatan ekosistem tersebut juga diarahkan hingga tahap hilirisasi hasil peternakan. Produksi telur dari peternak mikro dan kecil diharapkan dapat terserap melalui pasar reguler, pemenuhan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta pengembangan industri pengolahan telur.

Dalam rancangan yang dibahas, sekitar 1,9 juta ton telur diproyeksikan terserap melalui pasar reguler, termasuk untuk mendukung kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dan masyarakat. Selain itu, pengembangan industri pengolahan telur menjadi produk cair maupun tepung telur turut didorong untuk memperluas pasar domestik serta membuka peluang ekspor.

Dari sisi pelaksanaan, BULOG akan memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian, koperasi peternak, kelompok tani, dan pemangku kepentingan terkait untuk mematangkan mekanisme penyerapan surplus jagung, pengelolaan cadangan melalui skema pergudangan, serta distribusi sesuai kebutuhan di lapangan.

Sinergi ini menjadi penting untuk memastikan produksi jagung dalam negeri tidak hanya meningkat secara kuantitas, tetapi juga memiliki tata niaga yang lebih terarah, efisien, dan mampu memberikan nilai tambah bagi seluruh pelaku usaha di sepanjang rantai pasok.

Melalui penguatan peran sebagai penyangga jagung nasional, Perum BULOG berkomitmen mendukung terciptanya keseimbangan antara kepentingan petani sebagai produsen dan peternak sebagai pengguna jagung pakan. Integrasi produksi, penyerapan, penyimpanan, distribusi, hingga hilirisasi diharapkan menjadi fondasi bagi sistem pangan nasional yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Dengan mengutamakan hasil produksi dalam negeri serta keberlangsungan usaha petani dan peternak rakyat, BULOG terus mengambil bagian dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.