WHO Ingatkan Negara Tak Gunakan Herd Immunity untuk Lawan Corona

ANTARA FOTO/REUTERS/Suhaib Salem/aww/cf
Seorang perempuan membawa anak perempuannya yang oleh seorang tenaga kesehatan Palestina diambil sampel usap untuk tes penyakit virus korona (COVID-19), di tangga rumah mereka di Kota Gaza, 21 September 2020.
Penulis: Yuliawati
13/10/2020, 16.48 WIB

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengkritik pandangan yang mengandalkan kekebalan kelompok atau herd immunity sebagai upaya melawan penyebaran virus corona atau Covid-19.  Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom menyebut herd immunity terhadap Covid-19 bermasalah secara ilmiah dan tidak etis.

Tedros mengatakan bahwa herd immunity merupakan konsep yang digunakan untuk vaksinasi, di mana suatu populasi dapat dilindungi dari virus tertentu jika ambang batas vaksinasi tercapai.

Dia menjelaskan kekebalan terhadap campak mengharuskan sekitar 95% dari populasi menerima vaksin atau imunisasi. Sedangkan 5% dari populasi itu akan dilindungi karena campak tidak akan menyebar di antara mereka yang divaksinasi. Untuk menghentikan penyebaran polio dibutuhkan vaksinasi terhadap 80% dari populasi.

"Herd immunity dicapai dengan melindungi orang dari virus, bukan dengan membuat mereka terpapar virus. Hal itu tidak pernah digunakan sebagai strategi untuk menanggapi wabah," kata Tedros dikutip dari situs Xinhua, Selasa (13/10).

Hingga saat ini, masyarakat dunia belum mengetahui tentang kekebalan terhadap Covid-19, termasuk seberapa kuat atau tahan lama respons kekebalan itu. Hal penting yang belum diketahui juga bagaimana perbedaan kekebalan Covid-19  untuk orang yang berbeda, dan juga dampaknya bila orang terinfeksi untuk kedua kalinya."Kami punya beberapa petunjuk, tapi belum gambaran lengkapnya," ujarnya.

Selain itu, sebagian besar orang di sebagian besar negara tetap rentan terhadap virus ini, yang berarti bahwa membiarkan virus bersirkulasi tanpa terkendali dapat menyebabkan infeksi, penderitaan, dan kematian yang tidak perlu.

Adapun dunia baru mulai memahami dampak kesehatan jangka panjang pada penderita Covid-19. Sehingga dia menyebut "tidak etis" untuk membiarkan virus berbahaya yang tidak sepenuhnya dipahami untuk menyebar dengan bebas.

Oleh karena itu, Tedros mendesak negara-negara untuk tetap berpegang pada langkah-langkah yang telah diterapkan dan terbukti efektif untuk mengendalikan penularan dan menyelamatkan nyawa, seperti mencegah penyebaran, melindungi yang rentan, serta memberdayakan, mendidik dan melibatkan komunitas. Selain itu terus melacak, mengisolasi, menguji dan merawat mereka yang positif terpapar virus corona. "Tidak ada jalan pintas," kata Tedros.

Hingga hari ini jumlah kasus corona di dunia sebanyak 38 juta orang yang menyebabkan lebih dari satu juta orang meninggal dunia. Jumlah orang yang sembuh dari penyakit ini mencapai 28,6 juta orang.

Negara dengan jumlah kasus corona terbanyak yakni Amerika Serikat sebanyak 8 juta orang terinfeksi dan telah menyebabkan 220 ribu orang meninggal dunia. Peringkat kedua dan ketiga yakni India dan Brazil dengan jumlah masing-masing 7,1 juta dan 5,1 juta kasus.

Di Indonesia, sebanyak 3.906 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir. Penambahan itu menyebabkan jumlah kasus Covid-19 di Indonesia saat ini mencapai 340.622 orang, terhitung sejak diumumkannya pasien pertama pada 2 Maret 2020.


Satgas Penanganan Covid-19 mengingatkan masyarakat untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Kunci utama memutus mata rantai penyebaran virus corona adalah Gerakan 3M, memakai masker, menjaga jarak dan rajin mencuci tangan.

Beberapa jurnal internasional menyatakan bahwa mencuci tangan dengan sabun dapat menurunkan risiko penularan sebesar 35%. Sedangkan memakai masker kain dapat menurunkan risiko penularan sebesar 45%, dan masker bedah dapat menurunkan risiko penularan hingga 70%. Yang paling utama, menjaga jarak minimal 1 meter dapat menurunkan risiko penularan sampai dengan 85%.

Masyarakat dapat mencegah penyebaran virus corona dengan menerapkan 3M, yaitu: memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak sekaligus menjauhi kerumunan. Klik di sini untuk info selengkapnya.
#satgascovid19 #ingatpesanibu #pakaimasker #jagajarak #cucitangan