Efikasi Vaksin Novavax 89%, Hampir Menyamai Pfizer-Biontech

ANTARA FOTO/REUTERS/Alisha Jucevic/RWA/dj
Manager apotek Safeway Kel Fanny memasukkan jarum suntik ke botol vaksin virus corona (COVID-19) pada pusat vaksinasi masal di Clark County Event Center di Fairgrounds, Ridgefield, Washington, Amerika Serikat, Rabu (27/1/2021).
Penulis: Yuliawati
29/1/2021, 17.10 WIB

Vaksin virus corona buatan Novavax Inc menunjukkan tingkat efikasi 89,3% dalam mencegah virus corona. Hasil tersebut merupakan uji analisis fase ketiga di Inggris, yang juga mengklaim vaksin mampu menghalau varian corona baru yang lebih menular.

Uji coba di Inggris ini melibatkan 15.000 orang berusia 18 hingga 84 tahun. Dengan hasil uji klinis fase ketiga ini perusahaan mengajukan permohonan dapat digunakan di Inggris, Uni Eropa, dan negara lain..

Tingkat efikasi Novavax ini pun mendekati hasil uji klinis Pfizer Inc-BioNTech SE dan Moderna Inc yang mengklaim 95% efektif mencegah Covid-19.

John Moore, seorang profesor mikrobiologi dan imunologi di Weill Cornell Medical College di New York, mengatakan data Novavax UK pada dasarnya sama dengan hasil dari Pfizer dan Moderna.

“Ini tidak berbeda secara statistik. Vaksin ini pada dasarnya bekerja dengan baik pada strain dominan yang beredar di Inggris, yang berarti vaksin itu kemungkinan besar sama efektifnya di Amerika Serikat,” kata Moore dikutip dari Reuters, Jumat (29/1).

Namun, hasil uji klinis di Afrika Selatan menunjukkan tingkat efikasi yang lebih rendah yakni 60% di antara orang yang tidak memiliki HIV.

Amesh Adalja, seorang ahli penyakit menular di Pusat Keamanan Kesehatan Johns Hopkins, mengatakan bahwa hasil tersebut masih sejalan dengan harapan. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat dan WHO menyetujui vaksin dengan tingkat efikasi di atas 50%. “Saya tahu orang-orang akan khawatir, tetapi kemanjuran 60% terhadap varian baru dapat diterima,” kata dia.

Novavax menargetkan memproduksi 2 miliar dosis per tahun dengan menggunakan delapan pabrik di tujuh negara. Persetujuan vaksin Novavax mendapat sambutan di Eropa yang tengah menghadapi keterlambatan pasokan dari Pfizer-BioNTech dan AstraZeneca.

Pemerintah Indonesia pun memasukkan Novavax dalam daftar vaksin yang akan dipesan dan digunakan. Selain Sinovax, pemerintah akan memesan dan menggunakan vaksin: AstraZeneca, Pfizer-BioNTech, Moderna, Novavax, Sinopharm, dan vaksin Merah Putih.

Uji klinis Novavak saat ini juga berlangsung di Amerika Serikat dan Meksiko yang melibatkan 30 ribu orang dimulai pada Desember lalu. Perusahaan telah menerima US$ 1,6 miliar dari pemerintah AS untuk mendanai uji coba vaksin dan pengadaan 100 juta dosis.

Novavak juga menerima sekitar US$ 388 juta dalam bentuk dukungan dari Koalisi untuk Inovasi Kesiapsiagaan Epidemi (CEPI), organisasi yang didukung oleh 14 negara, Yayasan Bill and Melinda Gates, dan Wellcome Trust Inggris.

Vaksin Novavax bekerja menggunakan teknologi konvensional, pendekatan yang mirip dengan yang digunakan oleh Sanofi untuk membuat vaksin flu musiman Flublok. Vaksin Novavax bekerja dengan bahan khusus Matrix-M, milik perusahaan yang digunakan untuk meningkatkan kemanjurannya.