Hasil Studi Awal, Moderna Klaim Vaksinnya Ampuh Lawan Varian Covid-19

ANTARA FOTO/REUTERS/Eduardo Munoz/Pool/foc/cf
Eduardo Munoz/Pool Michelle Chester, DNP, direktur, pegawai layanan kesehatan, Northwell memperlihatkan vaksin penyakit virus korona (COVID-19) Moderna di Northwell Health's Long Island Jewish Valley Stream Hospital di New York, Amerika Serikat, Senin (21/12/2020). Moderna mengklaim vaksin mereka ampuh melawan varian corona.
6/5/2021, 08.20 WIB

Sejumlah perusahaan saat ini sedang memodifikasi vaksin produksinya agar mampu melawan varian Covid-19. Salah satunya adalah Moderna yang mengklaim berhasil menetralisir varian corona yang muncul di Afrika Selatan dan Brazil.

Klaim tersebut datang dari hasil studi yang dilakukan Moderna. Sebanyak 40 orang direkrut dan dibagi dua kelompok percobaan vaksin. Kelompok pertama yakni mereka yang menerima vaksin standar dan kedua menerima tambahan vaksin modifikasi.

Dua pekan setelah suntikan, Moderna menemukan bahwa vaksin modifikasi mereka yakni mRNA-1273.351 menghasilkan antibodi untuk menetralisir varian corona Brazil dan Afsel. Adapun vaksin standar mereka bernama mRNA-1273.

“Kami didorong data baru yang memperkuat keyakinan kami bahwa strateginya harus melindungi varian yang baru terdeteksi,” kata CEO Moderna Stephane Bancel dikutip dari The Guardian, Kamis (6/5).

Saat ini Moderna telah menyerahkan hasil studi awal untuk memulai pengujian gabungan. Setelah pengujian lebih besar selesai, makalah ilmiah akan dipublikasikan, lengkap dengan penelaahan yang dilakukan para ahli (peer review).

“Kami akan terus melakukan pembaruan sebanyak mungkin pada vaksin Covid-19 jika diperlukan untuk mengontrol pandemi,” kata Banchel.

Di kesempatan berbeda, Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) meminta sejumlah negara meningkatkan kapasitas produksi vaksin demi menambah pasokan. Ini lantaran dunia paling tidak memerlukan paling tidak 15 miliar dosis vaksin corona.

Direktur Jenderal WTO Ngozi Okonjo-Iweala mengatakan sejumlah negara yang bisa meningkatkan kapasitas produksinya antara lain Indonesia, Pakistan, Bangladesh, India, Afrika Selatan, dan Senegal.

Tak hanya itu, dia menyoroti akses vaksin yang adil kepada seluruh negara. Ini lantaran pada April, hanya 0,2 persen dari 700 juta vaksin yang dinikmati negara berpenghasilan rendah pada April lalu.

“Pemulihan ekonomi global tidak dapat dipertahankan kecuali kita menemukan cara untuk mendapatkan akses yang adil terhadap vaksin, terapi, dan diagnostik,” kata Okonjo-Iweala dikutip dari Channel News Asia.