Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, berencana menguasai minyak Iran sekaligus merebut Pulau Kharg yang menjadi pusat dan terminal utama ekspor minyak Iran. Trump mengatakan rencana itu sebagai langkah strategis untuk mengendalikan sumber energi global.
"Preferensi saya adalah mengambil minyaknya," kata Trump, dikutip dari Financial Times Senin (30/3).
Ia kemudian membandingkan rencana tersebut dengan langkah AS di Venezuela dalam upaya mengendalikan industri minyak negara itu tanpa batas waktu setelah menangkap Nicolás Maduro pada Januari lalu.
Penyataan Trump itu muncul ketika perang AS dan Israel melawan Iran mendorong kawasan Timur Tengah ke dalam krisis yang lebih dalam serta memicu lonjakan tajam harga energi global.
Eskalasi konflik tersebut menyebabkan harga minyak dunia melonjak lebih dari 50% dalam sebulan terakhir karena didorong kekhawatiran gangguan pasokan dan distribusi di Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent tercatat naik di atas US$ 116 per barel pada perdagangan Senin (30/3) pagi di Asia. Angka ini mendekati level tertinggi sejak konflik dimulai sekaligus mencerminkan meningkatnya kecemasan pasar terhadap perluasan perang di kawasan tersebut.
Trump mengatakan opsi pengambilalihan minyak Iran merupakan langkah ia inginkan meski menuai kritik di dalam negeri. “Sejujurnya, hal favorit saya adalah mengambil minyak di Iran, tetapi beberapa orang bodoh di AS berkata mengapa Anda melakukan itu," ujarnya.
Meski begitu, rencana serangan terhadap pusat ekspor minyak Iran di Pulau Kharg dinilai berisiko tinggi karena berpotensi meningkatkan korban di pihak AS sekaligus memperpanjang biaya dan durasi perang.
“Mungkin kami mengambil Pulau Kharg, mungkin tidak. Kami punya banyak opsi," kata Trump seraya mengakui bahwa langkah tersebut akan menuntut kehadiran militer AS dalam jangka waktu tertentu di wilayah itu.
Pulau Kharg merupakan terminal utama ekspor minyak Iran yang menyalurkan sekitar 90% pengiriman minyak mentah ke pasar global. Lokasinya yang dekat dengan Selat Hormuz menjadikannya target strategis dalam konflik yang sedang berlangsung sejak 28 Februari lalu.
Pada kesempatan itu, Trump juga meremehkan kemampuan pertahanan Iran di pulau Kharg dengan menyatakan Teheran tidak memiliki sistem pertahanan yang kuat. Ia menilai pasukan AS dapat merebut Pulau Kharg dengan relatif mudah dalam skenario operasi militer.
Politisi Partai Republik itu menyampaikan bahwa AS telah memperkuat kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah dengan mengerahkan sekitar 10 ribu pasukan. Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon mencatat sekitar 3.500 personel telah tiba di kawasan pada Jumat pekan lalu, termasuk sekitar 2.200 personel Korps Marinir yang saat ini masih dalam perjalanan.
Selain itu, militer AS juga memerintahkan ribuan pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 untuk segera dikerahkan guna memperkuat operasi dan kesiapan tempur di wilayah konflik.
Kendati berencana merebut pusat produksi minyak Iran, Trump mengatakan jalur diplomasi tetap berjalan melalui pembicaraan tidak langsung antara Washington dan Teheran yang dimediasi Pakistan.
Trump menyatakan proses komunikasi tersebut menunjukkan perkembangan positif, meski berlangsung di tengah eskalasi militer yang terus meningkat. Ia juga menetapkan tenggat waktu hingga 6 April bagi Iran untuk menerima kesepakatan guna mengakhiri konflik atau menghadapi potensi serangan AS terhadap sektor energinya.
Saat ditanya mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan gencatan senjata dalam waktu dekat yang berpotensi membuka kembali Selat Hormuz, Trump menolak memberikan rincian lebih lanjut terkait negosiasi tersebut.
“Kami masih memiliki sekitar 3 ribu target. Kami telah membombardir 13 ribu target dan masih ada beberapa ribu target lagi. Kesepakatan bisa dicapai cukup cepat," kata Trump.
Trump juga mengklaim bahwa Iran telah mengalami perubahan rezim setelah pemimpin tertinggi lama Iran, Ali Khamenei, serta sejumlah pejabat senior lainnya tewas pada fase awal perang pada Februari lalu.
Trump juga kembali mengulang klaimnya bahwa Mojtaba Khamenei, putra Khamenei dan pemimpin tertinggi baru Iran, kemungkinan telah meninggal atau mengalami luka parah.
“Anaknya mungkin sudah meninggal atau dalam kondisi sangat buruk. Kami sama sekali tidak mendengar kabar darinya. Dia hilang," ujar Trump.