Mengenal E-3 Sentry: Pesawat Mata-Mata AS di Arab Saudi yang Dihancurkan Iran

Instagram
USAF E-3 Sentry yang rusak dihancurkan Iran.
31/3/2026, 17.22 WIB

Pesawat pengintai militer Boeing E-3 Sentry milik Amerika Serikat (AS) belakangan menyita perhatian publik setelah dilaporkan rusak hingga hancur dalam serangan rudal dan drone Iran di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi pada Jumat (27/3).

Sejumlah gambar dan video yang beredar di media sosial Instagram Iran Radio English @iranradioen pada Senin (30/3), memperlihatkan kondisi pesawat dengan kerusakan berat di area pangkalan. Visual tersebut menunjukkan badan pesawat terbelah dan hangus.

Laporan The Wall Street Journal pada 28 Maret lalu menyebut pesawat itu termasuk dalam target armada yang terdampak serangan Iran. Serangan itu juga melukai sejumlah personel militer AS serta merusak beberapa pesawat lain.

Pesawat E-3 diketahui memiliki peran vital dalam memantau dan mengelola ancaman di ruang tempur, termasuk melacak pergerakan pesawat, rudal, dan drone secara langsung atau real time dari jarak ratusan mil.

Pesawat ini mampu menyajikan gambaran situasi pertempuran secara waktu nyata kepada para komandan. Dengan kemampuan itu, para personel militer dapat segera mengarahkan berbagai aset untuk mencegah ancaman, sekaligus mengoordinasikan pergerakan pesawat pihak sekutu secara lebih efektif.

Pesawat E-3 merupakan sistem Airborne Warning and Control System (AWACS) berbasis pesawat Boeing 707 yang dilengkapi radar besar berputar di bagian atas. Fitur itu berfungsi sebagai pusat komando udara yang mengkoordinasikan operasi militer dan memberikan gambaran menyeluruh di medan tempur.

Purnawirawan Kolonel Angkatan Udara AS, John ‘JV’ Venable menilai insiden tersebut sebagai persoalan serius. Menurutnya, kerusakan pada pesawat ini bisa melemahkan kemampuan Amerika Serikat untuk memantau situasi di kawasan Teluk.

“Ini masalah besar. Hal ini melemahkan kemampuan Amerika Serikat untuk memantau apa yang terjadi di kawasan Teluk serta menjaga kesadaran situasional,” ujarnya.

JV menambahkan, jumlah pesawat tersebut dalam inventaris Angkatan Udara AS sangat terbatas dan tidak dapat digantikan. The Wall Street Journal menuliskan Angkatan Udara AS kini hanya memiliki 16 unit E-3 Sentry yang tersisa, dengan enam di antaranya ditempatkan di Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Arab Saudi sebelum serangan terjadi pada Jumat, 27 Maret lalu.

Adapun produksi pesawat E-3 Sentry telah dihentikan sejak 1992. Sebagai penggantinya, Markas Besar Kementerian Pertahanan AS, Pentagon, berencana menggunakan Boeing E-7 Wedgetail dengan biaya yang diperkirakan mencapai lebih dari US$ 700 juta per unit.

Surat kabar harian New York Post melaporkan pesawat E-3 bernilai sekitar US$ 270 juta per unit. Serangan udara Iran ke fasilitas militer AS di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi, juga dilaporkan melukai 12 personel militer AS.

Selain itu, sejumlah pesawat pengisian bahan bakar milik AS turut mengalami kerusakan. Setidaknya satu pesawat pengisian bahan bakar udara KC-135 Stratotanker dilaporkan terkena serangan hingga terbakar.

Pangkalan udara Prince Sultan telah berulang kali menjadi target serangan balasan Iran di kawasan Teluk. Pada awal bulan ini, serangan serupa juga dilaporkan merusak sedikitnya lima pesawat pengisian bahan bakar.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu