Pemimpin Dunia Sambut Baik Kesepakatan AS-Iran Akhiri Perang di Timur Tengah

COP30 Brasil Amazonia/Rafa Neddermeyer
Para pemimpin dunia, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, menyambut baik kesepakatan damai antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Penulis: Hari Widowati
15/6/2026, 13.53 WIB

Para pemimpin dunia menyambut baik kesepakatan Amerika Serikat (AS)-Iran untuk mengakhiri perang di Timur Tengah. Beberapa negara Eropa memberi sinyal mereka siap mencabut sanksi terhadap Teheran sebagai imbalan atas langkah-langkah yang diambil negara tersebut untuk membatasi program nuklirnya.

Setelah lebih dari tiga bulan perang, AS dan Iran mencapai kesepakatan pada hari Minggu (14/6). Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan kesepakatan itu akan mengakhiri konflik secara langsung dan permanen. AS dan Iran dijadwalkan menandatangani kesepakatan itu di Swiss pada Jumat (19/6).

Setelah penandatanganan tersebut, keduabelah pihak akan melanjutkan pembicaraan tambahan mengenai program nuklir Iran selama 60 hari. 

Presiden AS Donald Trump mengatakan ia akan mengizinkan pencabutan blokade angkatan laut AS dalam waktu dekat. Meskipun ketentuan akhir belum diumumkan, media pemerintah Iran melaporkan draf memorandum setebal 14 halaman tersebut mencakup pencabutan sanksi minyak oleh AS dan komitmen Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu 30 hari.

Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia dalam pernyataan Bersama memuji kesepakatan itu sebagai kesempatan untuk memulihkan stabilitas regional dan menstabilkan ekonomi global. Mereka menyatakan siap mencabut sanksi-sanksi terhadap Iran yang terkait dengan program nuklirnya.

Kelompok yang dikenal sebagai E4 ini, dalam pernyataannya juga menyerukan agar kesepakatan tersebut dilaksanakan dengan cepat dan menyeluruh. Keempat negara ini mendesak pembukaan kembali Selat Hormuz dengan kebebasan navigasi tanpa syarat dan tanpa batasan.

Negara-negara Eropa menekankan Iran tidak boleh pernah memperoleh senjata nuklir. "Kami siap bekerja sama dengan AS, Iran, dan IAEA (Badan Energi Atom Internasional) untuk tujuan ini,” kata E4 seperti dikutip Reuters.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyambut baik kesepakatan tersebut sebagai langkah maju yang sangat penting dalam mengakhiri perang. "Selat Hormuz, titik krusial pasokan energi yang secara efektif telah ditutup selama perang berlangsung, harus tetap terbuka sepenuhnya dan secara permanen," kata Starmer seperti dikutip CNBC.

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam unggahan di akun X mengatakan, Jepang menyambut baik kesepakatan tersebut sebagai langkah besar menuju penyelesaian situasi di Timur Tengah. 

“Kami sangat berharap memorandum ini akan dilaksanakan secara bertahap, navigasi yang bebas dan aman di Selat Hormuz benar-benar terjamin, dan kesepakatan akhir mengenai masalah nuklir Iran serta hal-hal lainnya akan terwujud secepat mungkin,” kata Takaichi.

Trump diperkirakan akan bertemu dengan para pemimpin dari Kelompok Tujuh (G7) — Kanada, Prancis, Jerman, Italia, Jepang, dan Inggris — serta Uni Eropa pada KTT tahun ini. Pertemuan para pemimpin G7 ini akan dimulai Senin (15/6) di Prancis.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres mengucapkan selamat kepada pihak-pihak yang bertikai atas kesepakatan tersebut. Ia menyebut kesepakatan itu sebagai langkah penting menuju penyelesaian damai konflik. Ia menyampaikan apresiasi atas peran yang dimainkan oleh Pakistan, Qatar, dan negara-negara Timur Tengah lainnya dalam mendukung perundingan tersebut.

Pembukaan Selat Hormuz Penting untuk Redakan Tekanan Harga Energi

Pemerintah Australia melalui Perdana Menteri Anthony Albanese menyatakan meskipun pemulihan ekonomi sepenuhnya akan memakan waktu, pembukaan kembali Selat Hormuz merupakan hal yang esensial untuk meredakan tekanan terhadap harga energi. 

Australia mendesak semua pihak untuk mengejar perdamaian yang langgeng melalui dialog dan diplomasi. Negara itu juga menyerukan kepada Iran untuk menanggapi kekhawatiran yang telah lama ada mengenai program nuklirnya dan ancamannya terhadap keamanan internasional.

Kementerian Luar Negeri Qatar juga menyambut baik kesepakatan tersebut dalam sebuah pernyataan, menyebutnya sebagai “langkah penting menuju penguatan perdamaian yang berkelanjutan dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat regional dan internasional.”

Kesepakatan tersebut tercapai setelah berbulan-bulan negosiasi yang terhenti-henti dan serangkaian pertempuran di kawasan tersebut sejak akhir Februari, yang mengguncang pasar energi global dan memicu kekhawatiran akan resesi global.

Harga minyak turun setelah pengumuman kesepakatan pada hari Minggu (14/6), dengan minyak mentah Brent turun sekitar 4% menjadi US$ 83 per barel dan WTI merosot 4,8% menjadi US$ 80,8.

"Kesepakatan damai yang telah disepakati dapat meredakan tekanan inflasi secara signifikan, memulihkan kepercayaan konsumen, dan memberi bank sentral global ruang gerak yang lebih luas dalam kebijakan moneter," kata Christian Noyer, Gubernur Kehormatan Bank of France, kepada program “Squawk Box Asia” CNBC pada Senin (15/6). 

Ia berharap penandatanganan kesepakatan tersebut dapat diwujudkan secepat mungkin. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.