Iran Tawarkan Rencana 7 Hari untuk Buka Selat Hormuz, Ini Syaratnya
Iran menawarkan rencana tujuh hari kepada Amerika Serikat (AS) untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan lalu lintas pelayaran normal. Rencana tersebut akan mulai dijalankan setelah Washington menyetujui persyaratan yang diajukan Teheran.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi mengatakan, proposal konkret itu telah disampaikan kepada AS melalui Qatar. Jika persyaratan yang ditetapkan terpenuhi, Iran menyatakan Selat Hormuz dapat dibuka kembali dan pelayaran normal dipulihkan dalam waktu tujuh hari.
“Pilihan sekarang berada di tangan AS. Iran tidak menerima pemaksaan, ancaman, atau intimidasi dan tidak akan menyerahkan hak kedaulatannya di bawah tekanan,” kata Araghchi dalam konferensi pers di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB, Jumat (25/9) waktu AS, seperti dikutip Arab News.
Araghchi menuturkan, seluruh persiapan telah tersedia apabila Washington serius mencapai kesepakatan dan membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut. Namun, ia menegaskan sejumlah tindakan harus dilakukan AS terlebih dulu sebelum tenggat tujuh hari mulai dihitung.
Menurut Araghchi, langkah yang diminta Iran pada dasarnya telah tercantum dalam nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) yang disepakati kedua negara pada Juni lalu. Kesepakatan tersebut sebelumnya dirancang untuk membuka jalan menuju gencatan senjata permanen dan pembahasan lebih lanjut mengenai program nuklir Iran.
Sejumlah laporan menyebut proposal terbaru Iran antara lain mencakup pencairan aset Iran yang dibekukan dengan nilai sedikitnya US$ 12 miliar. Rencana tersebut juga dilaporkan meminta AS mencabut sanksi terhadap ekspor minyak Iran serta mengakhiri blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Araghchi sebelumnya telah bertemu Utusan Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, untuk membahas sejumlah persyaratan terkait pembukaan kembali Selat Hormuz. Namun, hingga kini belum ada kesepakatan final antara kedua negara mengenai proposal tersebut.
Selat Hormuz menjadi titik penting dalam konflik Iran dan AS karena merupakan jalur strategis bagi perdagangan energi global. Gangguan terhadap pelayaran di kawasan tersebut telah meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi dan perdagangan internasional.
Tekanan terhadap Teheran untuk membuka kembali jalur tersebut juga meningkat. Pada Kamis (24/9), sekitar 80 negara mendesak pembukaan segera Selat Hormuz sekaligus mengecam serangan Iran terhadap negara-negara di kawasan dan gangguan terhadap perdagangan serta keamanan energi.
Pernyataan bersama yang dibacakan Menteri Luar Negeri Bahrain, Abdullatif bin Rashid Al Zayani, di PBB juga mengecam serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap Arab Saudi dan kawasan Laut Merah. Negara-negara tersebut menilai perkembangan konflik di sekitar Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb meningkatkan risiko terhadap pelayaran internasional.
Proposal tujuh hari dari Iran muncul setelah inisiatif diplomatik sebelumnya antara Washington dan Teheran mengalami kebuntuan. Kesepakatan yang dicapai pada Juni sempat membuka ruang bagi pembicaraan mengenai gencatan senjata dan program nuklir Iran, tetapi kemudian tidak berlanjut dan konflik kembali meningkat.
Kini, Iran menyatakan kesiapan untuk kembali membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz apabila AS memenuhi sejumlah persyaratan. Di lain pihak, Washington sebelumnya menyatakan keinginannya agar pembahasan mengenai program nuklir Iran menjadi bagian penting dari proses negosiasi.
Araghchi menegaskan, Iran telah menyiapkan langkah yang diperlukan untuk menjalankan proposal tersebut. Menurutnya, apabila AS menerima rencana itu dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan, proses pembukaan Selat Hormuz dapat dimulai dengan target pemulihan pelayaran normal dalam tujuh hari.