Trump Klaim Iran Hampir Menyerah soal Nuklir, tapi Negosiasi Masih Buntu

Instagram/White House
Donald Trump
Penulis: Desy Setyowati
4/10/2026, 14.15 WIB

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim Iran 'hampir menyerah' terhadap rencana mengembangkan senjata nuklir. Namun, negosiasi antara Washington dan Teheran masih menghadapi jalan buntu, sementara Iran mempersiapkan respons militer yang lebih luas dan keras jika AS kembali melancarkan serangan berskala besar.

Dikutip dari Anadolu pada Minggu (4/10), Trump menyampaikan klaim tersebut kepada wartawan saat meninggalkan Gedung Putih menuju rapat umum di Ohio, Sabtu (3/10).

“Ngomong-ngomong, Iran, seperti yang kalian ketahui, hampir menyerah terhadap rencana memiliki senjata nuklir,” kata Trump.

Trump juga menyoroti perkembangan harga minyak yang menurutnya mengalami penurunan setelah melonjak sejak Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari.

“Harga minyak turun. Saat ini harga minyak lebih rendah, bahkan lebih rendah dibandingkan masa pemerintahan Biden,” ujarnya.

Trump menilai pemerintahan mantan Presiden AS Joe Biden tidak melakukan apa pun untuk mencegah Iran memiliki senjata nuklir. Pencegahan pengembangan senjata nuklir Iran merupakan salah satu tujuan utama pemerintahan Trump dalam konflik dengan Teheran.

Namun, Iran selama ini membantah tuduhan AS dan Israel mengenai upaya mengembangkan senjata nuklir. Presiden Iran Masoud Pezeshkian kembali menegaskan posisi tersebut ketika mengunjungi New York untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bulan lalu.

Pezeshkian mengatakan Iran tidak menginginkan senjata nuklir karena adanya larangan agama. Ia juga menawarkan pengurangan kadar uranium yang diperkaya Iran melalui proses yang diawasi secara internasional.

Meski demikian, Teheran menegaskan tidak akan mengorbankan program nuklir untuk tujuan damai ataupun membuat konsesi struktural sebelum Washington mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran.

Iran Siapkan Balasan Lebih Keras jika AS Menyerang

Di tengah klaim Trump mengenai program nuklir Iran, Teheran justru mempersiapkan respons militer yang lebih luas jika Washington kembali melancarkan serangan berskala besar.

Dikutip dari Reuters pada Jumat (1/10), sejumlah pejabat senior Iran dan seorang sumber internal yang mengetahui pembahasan itu mengatakan para komandan Iran sedang meninjau rencana untuk memperluas target potensial serangan balasan.

Target tersebut tidak hanya mencakup aset-aset yang terkait dengan AS, tetapi juga negara-negara yang mendukung operasi militer Washington, bahkan lokasi-lokasi di luar Timur Tengah.

Sejak Pezeshkian kembali dari New York pada pekan sebelumnya, para komandan dan pejabat senior Iran disebut memusatkan perhatian pada cakupan serta waktu pelaksanaan respons jika Washington kembali melancarkan serangan.

Belum ada keputusan akhir mengenai rencana tersebut. Namun, perencanaan semakin intensif karena kedua pihak dinilai belum menunjukkan tanda-tanda kesediaan untuk berkompromi.

Pembahasan itu berlangsung setelah konflik yang bermula dari serangan AS-Israel pada 28 Februari. Gencatan senjata pada 8 April mengakhiri perang selama 40 hari, meskipun permusuhan masih terjadi secara sporadis setelahnya.

Analis senior mengenai Iran di International Crisis Group, Hamidreza Azizi mengatakan, Teheran belum mengetahui apakah Trump akan melancarkan kampanye militer besar lainnya atau memilih serangan yang lebih terbatas, misalnya terhadap fasilitas nuklir Iran.

Namun, menurut Azizi, Iran tampaknya bertekad untuk tidak membalas serangan secara simbolis dengan respons yang sama terbatasnya. Teheran justru mempertimbangkan peningkatan eskalasi untuk membangun kembali efek jera terhadap AS.

Dua pejabat Iran yang dikutip Reuters juga mengatakan Teheran telah menginstruksikan kelompok-kelompok sekutunya di Lebanon, Yaman, dan Irak untuk bersiap mendukung Iran jika terjadi serangan besar-besaran AS lagi.

Iran turut mempertimbangkan risiko politik yang mungkin dihadapi Trump apabila konflik berlangsung berkepanjangan. Jajak pendapat menunjukkan perang tersebut tidak populer di kalangan masyarakat AS, sementara kenaikan harga bahan bakar menjadi kekhawatiran menjelang pemilihan paruh waktu.

Negosiasi Nuklir Iran dan AS Masih Buntu

Meskipun mempersiapkan kemungkinan perang yang lebih luas, Iran masih membuka jalur diplomasi dengan AS. Namun, peluang tercapainya kesepakatan dinilai masih terbatas.

Dalam Sidang Umum PBB di New York pada pekan sebelumnya, Teheran mengajukan proposal kepada Washington melalui mediator Qatar. Jika diterima, proposal tersebut disebut dapat membuka kembali Selat Hormuz dan menghentikan permusuhan di seluruh kawasan dalam waktu tujuh hari.

Otoritas Iran mengatakan proposal itu mencakup penghentian pertempuran, pencabutan blokade AS terhadap pelabuhan Iran, pencairan sedikitnya US$ 12 miliar dana Iran yang dibekukan, serta penghapusan sanksi minyak.

Trump mengatakan pada Sabtu (3/10) bahwa ia telah menolak proposal tersebut. Namun, media pemerintah Iran melaporkan tanggapan AS telah disampaikan kepada Teheran melalui Qatar pada Selasa dan sedang ditinjau.

Menurut sumber-sumber Iran yang dikutip Reuters, Washington ingin program nuklir Iran dimasukkan dalam pembicaraan. Sebaliknya, Teheran bersikeras bahwa negosiasi nuklir baru dapat dimulai setelah tujuh syarat yang diajukannya dipenuhi.

Salah satu pejabat Iran mengatakan pembicaraan tidak langsung masih berlanjut, tetapi kemungkinan kedua pihak mencapai kesepakatan sangat kecil.

Direktur Program Iran di Middle East Institute di Washington, Alex Vatanka, juga menilai prospek diplomasi masih terbatas.

Menurut dia, Iran tidak mampu menanggung blokade AS yang berkepanjangan karena tekanan tersebut dapat mengganggu sumber pendapatan utama negara, terutama ekspor minyak. Vatanka menilai eskalasi konflik sangat mungkin terjadi dalam kondisi tersebut.

Blokade AS Tekan Ekonomi dan Stabilitas Iran

Konflik berkepanjangan telah menimbulkan tekanan terhadap kedua negara. Bagi Iran, blokade AS yang memutus ekspor minyak menambah beban ekonomi yang sebelumnya telah tertekan oleh sanksi bertahun-tahun dan kesulitan ekonomi masyarakat.

Sejumlah sumber Reuters mengatakan, tekanan militer dan pembatasan ekonomi semakin sulit dipertahankan oleh para pemimpin Iran.

Sementara itu, bagi AS, perang tersebut dinilai belum mencapai tujuan Trump yang terus berubah dan telah menghabiskan persediaan rudal Pentagon.

Iran bersama kelompok-kelompok sekutunya berupaya meningkatkan biaya konflik bagi Washington dengan memperluas tekanan di kawasan, termasuk mengganggu aliran minyak melalui Selat Hormuz dan meningkatkan risiko terhadap pasar energi global.

Iran telah melancarkan serangan pesawat tak berawak dan rudal terhadap sekutu AS di Teluk. Kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman juga menargetkan kepentingan Saudi. Pergerakan Houthi menuju Bab el-Mandeb membuka titik tekanan lain terhadap jalur energi global, yakni gerbang selatan menuju Laut Merah.

Selain tekanan ekonomi dan militer, kepemimpinan Iran menghadapi kekhawatiran mengenai stabilitas dalam negeri.

Seorang mantan pejabat senior reformis Iran yang dikutip Reuters mengatakan para pemimpin negara tersebut khawatir kerusuhan nasional yang terjadi pada Januari lalu kembali pecah akibat memburuknya kondisi ekonomi.

Pihak berwenang sebelumnya menumpas demonstrasi tersebut, yang menewaskan ribuan demonstran. Menjelang peringatan kerusuhan itu, pemerintah Iran memperketat kontrol dan mendorong para pendukungnya untuk berkumpul setiap malam guna mempertahankan mobilisasi publik.

Kelompok hak asasi manusia juga melaporkan peningkatan penindakan terhadap perbedaan pendapat selama perang. Amnesty International menyatakan pada Mei bahwa lebih dari 6.000 orang telah ditangkap sejak permusuhan dimulai. Sementara itu, laporan para penyelidik PBB pada September menyebutkan adanya penangkapan massal, penyiksaan, dan peningkatan penggunaan hukuman mati.

Dengan demikian, klaim Trump bahwa Iran hampir menyerah terhadap rencana pengembangan senjata nuklir belum diikuti kesepakatan antara kedua negara. Iran tetap membantah berupaya mengembangkan senjata nuklir, menuntut pencabutan sanksi sebelum memberikan konsesi struktural, dan pada saat yang sama mempersiapkan kemungkinan serangan balasan yang lebih luas jika konflik kembali meningkat.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Desy Setyowati, Antara