Harga Minyak Bangkit hingga 3% Terdorong Kesepakatan AS-Rusia

Katadata
Ilustrasi, kilang minyak. Harga minyak pada Selasa (31/3) naik hingga 3% setelah Amerika Serikat dan Rusia sepakat membahas upaya menstabilkan pasar minyak.
31/3/2020, 08.50 WIB

Harga minyak berbalik naik setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin sepakat menstabilkan pasar minyak. Hal itu membawa sentimen positif bagi harga minyak yang anjlok hingga mendekati level terendah dalam 18 tahun pada Senin (30/3).

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) pada Selasa (31/3) pukul 08.15 WIB naik 3,04% menjadi US$ 20,7 per barel. Sedangkan harga Brent naik tipis 0,79% ke level US$ 22,94 per barel.

Trump dan Putin dalam pembicaraan telepon pada Senin (30/3) sepakat menugaskan pejabat resmi bidang energi berdiskusi mengenai pasar minyak. Market Strategist AxiTrader Stephen Innes mengatakan diskusi kedua negara itu akan membuat Rusia menarik kursi ke meja perundingan dengan Arab Saudi atau AS akan melonggarkan sanksi terhadap Rusia.

(Baca: Trump dan Putin Setuju Bahas Upaya Mendongkrak Harga Minyak Dunia)

"Sinyal apapun terkait Rusia dan Saudi yang bagus akan membawa sentimen positif bagi harga minyak. Tapi ini merupakan cerita yang berkembang, harga minyak telah pulih di atas US$ 20 per barel," kata Stephen dilansir dari Reuters pada Selasa (31/3).

Harga minyak sebelumnya tertekan pandemi virus corona. Kemudian, sentimen negatif muncul dari perang harga antara Rusia dan Arab Saudi setelah OPEC dan produsen minyak lainnya gagal mencapai kesepakatan pemangkasan produksi tahun ini.

Arab Saudi yang merupakan pemimpin de facto OPEC berencana meningkatkan ekspor minyak hingga 10,6 juta barel per hari dari Mei 2020. Tidak hanya itu, negara di Timur Tengah itu juga berencana menekan konsumsi minyak domestik.

Keputusan Arab Saudi membuat kilang minyak di dunia harus memangkas produksi karena anjloknya permintaan bahan bakar minyak (BBM). Kilang di Eropa bahkan telah memangkas produksi sebesar 1,3 juta barel per hari.

(Baca: Harga Minyak Sentuh US$ 20 per Barel, Terendah Sejak November 2002)