Pemilik Lion Air Rusdi Kirana menjadi sasaran protes keluarga korban penerbangan Lion Air JT-610. Hal ini terjadi saat pemerintah bersama Lion Air menggelar pertemuan dengan pihak keluarga untuk memberi keterangan dan mendegar masukan.
Dalam acara tersebut hadir Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala Badan Search and Rescue Nasional Muhammad Syaugi, Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjo serta Rusdi.
Salah seorang keluarga korban bernomor manifest 122 atas nama Johan Ramadhan menyemprot Rusdi lantaran beberapa hal. Dia mengatakan Lion kerap kali tersandung masalah keselamatan penerbangan. Selain itu dirinya sebagai keluarga korban merasa pihak Lion tak berempati pasca kecelakaan pesawat Lion Air JT 610 yang telah menyebabkan sebanyak 189 korban meninggal.
"Saya tidak ingin jadi provokator tapi saya anggap pak Rusdi Kirana gagal," kata dia di Hotel Ibis, Senin (5/11).
(Baca: Jokowi Tekankan Kecelakaan JT 610 Jadi Insiden Penerbangan Terakhir)
Anggota keluarga tersebut menyebut uang yang diberikan kepada keluarga korban tak merepresentasikan kepedulian pihak maskapai berlogo kepala Singa itu, sebab hal itu merupakan kewajiban Lion kepada keluarga. Oleh karenanya dia meminta Lion merangkul dan berempati dengan cara memberikan informasi secara terbuka dan jelas kepada pihak keluarga.
"Kami perlu dirangkul tapi tidak ada sedikit pun telepon (dari Lion)," kata dia.
Protes juga dilontarkan keluarga korban lainnya, yakni Muhammad Bambang Sukandar, ayah dari korban penumpang bernama Pradana. Dia meminta pemerintah ikut campur tangan memperbaiki manajemen Lion. Apalagi menurutnya, maskapai ini kerap mengalami banyak masalah.
Bambang meminta Lion besikap jujur dan terbuka apakah pesawat sudah mengalami masalah sejak penerbangan Denpasar - Jakarta atau tidak.
"Jangan sampai korban anak bangsa terus berlanjut," katanya, usai meminta Rusdi Kirana berdiri menghadap keluarga korban.
Sedangkan adik kandung penumpang bernomor 131 atas nama Ahmad Endang Rohmanah meminta Kementerian Perhubungan mengatur perang tarif maskapai murah ini. Hal tersebut agar maskapai seperti Lion yang memiliki armada besar tidak lagi menyepelekan aspek keselamatan.
"Jangan ragu untuk mengatakan tidak layak dan secepatnya cari (maskapai) yang layak," kata dia.
(Baca: Jokowi Perintahkan KNKT Segera Temukan Penyebab Kecelakaan Lion Air)
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri juga tak lepas dari kritik keluarga korban lantaran prosedur identifikasi korban dianggap rumit dan terlalu prosedural.
Anak dari korban atas nama Muas Effendi Nasution ini mengaku dimintai data asli sidik jari ayahnya. Namun ketika dokumen telah dikirim dari Medan, petugas DVI malah meminta fotonya saja.
"Ini maksudnya apa, kalau diinfokan kami bisa beri data," kata dia.