KATADATA - Pemerintah akan menetapkan konsultan independen untuk mengkaji rencana pengembangan atau plan of development (PoD) Blok Masela pada pekan ini. Dari enam perusahaan yang mengikuti proses seleksi, Wood Mackenzie menjadi kandidat terkuat.    

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) I.G.N. Wiratmaja Puja mengatakan, pihaknya menggelar proses seleksi beauty contest terlebih dahulu sebelum menetapkan konsultan independen yang akan mengkaji PoD Blok Masela. Proses seleksi itu diikuti oleh enam perusahaan global.

Enam perusahaan tersebut adalah Fluor Corporation, Bechtel,  IHS Inc, Wood Mackenzie, A.T. Kearney, dan Deloitte Advisory. Lima perusahaan tersebut berasal dari Amerika Serikat. Hanya satu yang berasal dari Skotlandia, yakni wood Mackenzie.

Berdasarkan hasil penilaian sementara, Fluor Corporation dan Wood Mackenzie yang memiliki kualifikasi tertinggi. Sekadar informasi, Fluor merupakan perusahaan jasa konstruksi atau engineering, procurement, construction (EPC) yang juga pernah ikut proyek fasilitas lepas pantai terbesar di dunia untuk gas alam di Jawa pada era 1970-an. Sedangkan Wood Mackenzie adalah perusahaan konsultan energi, logam, dan pertambangan berbasis di Edinburgh Skotlandia, yang memiliki 25 kantor di seluruh dunia.

Namun, Wiratmaja belum bersedia menyebutkan perusahaan konsultan yang terpilih melakukan kajian atas Blok Masela. "Siapa konsultannya akan diumumkan minggu depan," katanya kepada Katadata melalui pesan singkat di aplikasi Whatsapp, Minggu (8/11).

Sedangkan menurut sumber Katadata di lingkungan regulator minyak dan gas bumi (migas), Wood Mackenzie merupakan calon kuat yang akan menjadi konsultan Blok Masela. Pertimbangannya, perusahaan tersebut memiliki cabang di Indonesia.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said tidak mau mencampuri proses seleksi konsultan independen tersebut. Sebab, proses itu sudah ditangani oleh tim tersendiri. "Ada panitia penilai yang independen. Saya tidak akan ikut campur," katanya kepada Katadata, Jumat (6/11).

(Baca: Enam Perusahaan Global Berebut Jadi Konsultan Blok Masela)

Yang jelas, konsultan independen itu akan segera ditetapkan dalam waktu dekat ini. Dengan begitu, akhir tahun nanti sudah ada keputusan mengenai pengembangan Blok Masela, apakah menggunakan skema darat (onshore) atau fasilitas kilang terapung (FLNG). "Deadline tidak berubah. Sebelum akhir tahun harus selesai kajiannya," ujar Sudirman.

(Baca: Kaji Ulang Pengembangan Blom Masela, ESDM Pakai Konsultan Independen)

Seperti diketahui, Kementerian ESDM akan menggandeng konsultan independen melakukan kajian, sebagai pertimbangan untuk memutuskan proyek Blok Masela. Tujuannya untuk mendapatkan keputusan yang terbaik terkait revisi PoD I Blok Masela.

Kajian ini terkait revisi PoD I yang diajukan Inpex Masela Ltd untuk Blok Masela. Inpex ingin menambah kapasitas fasilitas gas Blok Masela dengan skema pengolahan gas cair terapung (FLNG), dari 2,5 juta metrik ton per tahun (MTPA), menjadi 7,5 juta MTPA. Penambahan kapasitas ini terkait ditemukannya cadangan gas baru di blok migas tersebut dari 6,05 triliun kaki kubik (TCF) menjadi 10,73 TCF.

(Baca: Konsultan Belum Ditunjuk, ESDM Optimistis Keputusan Blok Masela Sesuai Jadwal)

SKK Migas sebenarnya telah memberikan rekomendasi kepada Menteri ESDM pada 10 September lalu. Dalam rekomendasinya, SKK Migas menyetujui revisi POD I Blok Masela. Namun, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli menilai penggunaan pipa di darat akan lebih murah dibandingkan skema FLNG.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Arnold Sirait