Pertamina: Belum Ada Impor Pertalite

KATADATA
Petuga mengisi Pertalite ke tangki sepeda motor di salah satu SPBU di Jakarta.
Penulis:
Editor: Arsip
27/7/2015, 11.29 WIB

KATADATA ? PT Pertamina (Persero) pada pekan lalu meluncurkan produk bahan bakar minyak (BBM) baru dengan merek Pertalite. Pihak Pertamina mengklaim, BBM dengan nilai oktan (RON) 90 tersebut, sampai saat ini masih diproduksi di dalam negeri karena konsumsinya yang masih sedikit.

?Masih tes pasar, baru sedikit. Kalau Premium dan Solar sudah jelas (konsumsinya). Pertalite belum impor,? kata Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang kepada Katadata, Senin (27/7).

Dia menjelaskan, seperti BBM dengan merek lain, Pertalite merupakan hasil olahan antara High Octane Mogas Component (HOMC) dengan kadar RON 98 dengan Naptha yang berkadar RON 65-70.Selama ini, HOMC hanya bisa diproduksi oleh kilang-kilang canggih dan modern. Di Indonesia, kilang yang menghasilkan HOMC sangat terbatas, yakni di Balongan dan Plaju.

?Itu pun kapasitasnya terbatas,? tutur dia.

Makanya, lanjut dia, Pertamina berupaya mempercepat pengoperasian Residual Fluid Catalytic Cracker (RFCC) yang ada di Cilacap, Jawa Tengah. Kilang ini diperkirakan operasi penuh pada Oktober 2015. Selain itu, Pertamina perlu mempercepat pembangunan kilang Langit Biru Cilacap yang saat sedang dalam proses tender.

Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi (Migas) Faisal Basri menilai Pertamina masih merahasiakan asal produk Pertalite. ?Pertalite bukan produk kilang, melainkan cuma sekadar produk campuran. Dari mana asal barang itu, Pertamina masih merahasiakannya. Entah mengapa,? kata dia seperti dikutip dari blog pribadinya.

Menurut dia, pemerintah mengizinkan Pertamina memproduksi Pertalite sebagai kompensasi dari kebijakan pemerintah untuk menahan harga jenis Premium. Sejak akhir tahun lalu, pemerintah sudah tidak mengalokasikan anggaran untuk subsidi bensin Premium. Subsidi hanya diberikan untuk Solar dan minyak tanah.

Lantaran tidak ada alokasi subsidi, maka selisih kerugian dari harga Premium ditanggung Pertamina. Makanya, pemerintah mengizinkan Pertamina menjual produk Pertalite. Padahal, BBM dengan RON 90 itu tidak memiliki referensi harga Means of Platts Singapore (MOPS) yang selama ini menjadi acuan harga BBM RON 92 dan Gasoil.

Pasalnya, di negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Timur sudah tidak menggunakan BBM dengan kadar oktan di bawah 92. ?Bahkan Thailand dan Malaysia telah bermigrasi ke RON 95 sebagai BBM dengan kualitas terendah,? tuturnya. 

Reporter: Arnold Sirait