KATADATA ? Asosiasi produsen minyak, Indonesian Petroleum Association (IPA), mengatakan dari hari ke hari ancaman krisis energi buat Indonesia semakin nyata. Selisih antara permintaan energi yang tinggi dan pasokan produksi minyak di dalam negeri kian besar.
Direktur Eksekutif IPA Dipnala Tamzil mengatakan permintaan energi pada 2010 adalah 3,3 juta barrel oil equivalent per day (boepd). Pada 2025, permintaan energi diperkirakan meningkat menjadi 7,7 juta boepd. Sebaliknya, pasokan energi--terutama dari minyak dan gas--relatif stagnan. "Permintaan energi itu dalam semua bentuk, seperti minyak, gas, dan batu bara. Proporsi energi dari migas sebesar 47 persen," katanya seperti dikutip di Koran Tempo, Rabu (6/5).
Menurut Dipnala, saat ini ada gejala krisis energi di Indonesia. Tahun ini diperkirakan Indonesia kekurangan pasokan minyak dan gas sebesar 2,4-2,5 juta boepd. "Kalau tidak ada penemuan cadangan baru, 11-12 tahun lagi selesailah. Indonesia akan kehabisan oil and gas dan jadi net importer," ujarnya.
Berdasarkan perhitungan IPA, rasio kecukupan yang ideal seharusnya 100 persen. Artinya 100 persen produksi keluar, 100 persen cadangan baru masuk. "Tapi, dengan produksi 47 persen, berarti ini sudah menggerogoti cadangan energi. Lama-lama habis," kata Dipnala.
Di sisi lain, penemuan cadangan minyak baru juga butuh waktu relatif lama, yakni sepuluh tahun, dari eksplorasi hingga produksi.