Dua Kapal Pertamina Masih Terjebak di Selat Hormuz Sejak Perang AS-Iran
PT Pertamina (Persero) mengatakan posisi dua kapal tanker milik perusahaan saat ini masih berada di Teluk Persia. Kedua kapal yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro belum bergerak melewati Selat Hormuz
“Saat ini posisi (kapal) masih di tempat yang sama,” kata Sekretaris Perusahaan PT Pertamina (Persero) Arya Dwi Paramita saat ditemui usai acara Pertamina Sustainability Champions, Kamis (16/4).
Arya menyampaikan Pertamina saat ini terus berkoordinasi dan berkonsultasi kepada seluruh pihak terkait, di antaranya adalah Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar Iran.
“Kami tetap menunggu perkembangan situasi ini lebih baik kedepannya. Terima kasih atas bantuan yang sudah diberikan semua pihak,” ujarnya.
Berdasarkan laman vesselfinder, posisi kapal Pertamina Pride memang masih berada di Teluk Persia. Keberadaan armada yang dibangun pada 2021 ini di dekat pelabuhan Ras Tanura, Arab Saudi.
Adapun posisi kapal Gamsurono juga tak jauh berbeda, masih berada di dalam Teluk Persia. Posisi kapal saat ini berada dekat dengan wilayah Dubai.
Negosiasi Terus Berlanjut
Pemerintah terus melakukan negosiasi intensif terkait dua kapal tanker milik Pertamina yang terdampak dinamika geopolitik di Timur Tengah. Hal ini seiring momentum adanya jeda gencatan senjata selama dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyampaikan pemerintah tetap menjalin komunikasi dengan otoritas Iran untuk menyelesaikan proses negosiasi akses pelayaran di Selat Hormuz.
Ia menilai kondisi ini tidak akan mengganggu pasokan energi domestik, khususnya bahan bakar minyak (BBM). “Mohon tidak dikaitkan bahwa akibat proses negosiasi yang belum itu, nanti seolah-olah akan mengganggu stok suplai. Kan tidak tidak seperti itu,” kata Prasetyo di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (8/4).
Prasetyo menjelaskan volume minyak yang sempat tertahan diperkirakan sekitar 1,8 juta barel atau setara dengan cadangan nasional untuk satu hingga dua hari. Meski demikian, pemerintah tidak bergantung pada pasokan tersebut dan telah mengamankan sumber suplai dari wilayah lain.
“Karena yang tertahan itu kalau bicaranya tonase sekitar kurang lebih 1,8 juta barel, setara dengan mungkin cadangan kita satu sampai dua hari. Pemerintah juga tidak tinggal diam kepada masalah. Sumber-sumber dari tempat yang lain harus kita amankan,” ujarnya.
