Pemerintah Targetkan Produksi 50 Ribu Alat Tes PCR Corona Akhir Mei
Pemerintah menargetkan 50 ribu alat tes polymerase chain reaction (PCR) dapat diproduksi akhir Mei untuk deteksi virus corona Covid-19. Menteri Riset dan Teknologi Bambang Brodjonegoro mengatakan PCR tersebut saat ini sedang menjalani proses validasi dan registrasi di Kementerian Kesehatan.
Bambang mengatakan PCR yang dikembangkan di dalam negeri ini memiliki kelebihan ketimbang alat serupa impor. Alasannya adalah alat tes itu dibuat berdasarkan karakteristik virus yang menyebar di Indonesia.
“Desainnya menggunakan analisa bioinformatika yang spesifikasinya paling dekat dengan virus lokal,” kata Bambang saat rapat virtual dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Selasa (5/5).
(Baca: Menristek: Tipe Corona di Indonesia Beda dengan 3 Jenis Lain di Dunia)
Dalam rapat tersebut Bambang tidak menjelaskan siapa produsen PCR tersebut. Namun dari sejumlah pemberitaan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi bersama PT Bio Farma (Persero) yang akan memproduksi alat tes itu.
Bambang juga mengatakan Universitas Gadjah Mada (UGM), PT Hepatika, dan sebuah perguruan tinggi swasta sedang mengembangkan 50 ribu perangkat tes diagnostik non PCR. Alat bernama RDT IgG/IgM itu diperkirakan akan mulai diproduksi Juni 2020.
Dia mengatakan untuk tahap awal, 10 ribu perangkat tes tersebut sudah diproduksi pada 8 Mei 2020. "Usai validasi diperkirakan Juni sudah ada 50 ribu test kit,” kata mantan Menteri Keuangan itu.
Sedangkan Kepala BPPT Hammam Riza mengatakan saat ini pihaknya menunggu kedatangan komponen untuk melengkapi proses produksi PCR. “Ada dua bahan baku impor untuk melengkapi keseluruhan produksi,” kata Hammam.
(Baca: Kemenkes Uji Obat Ebola hingga HIV pada Pasien Covid-19)