Kasus Corona Melonjak, Ahli Epidemiologi Waspadai Potensi Klaster Baru

ANTARA FOTO/Arif Firmansyah/pras.
Penumpang bus mengikuti tes usap (swab) di Terminal Baranangsiang, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (10/7/2020).
Penulis: Dimas Jarot Bayu
Editor: Yuliawati
10/7/2020, 15.18 WIB

Kasus positif virus corona atau Covid-19 di Indonesia menyentuh rekor baru pada Kamis (9/7) mencapai 2.567 orang. Hingga kini, total kasus positif corona mencapai 70.736 kasus.

Ahli epidemiologi dari Griffith University Australia Dicky Budiman mengatakan, lonjakan tersebut menunjukkan banyak anggota masyarakat yang belum terdeteksi Covid-19. Sehingga setiap upaya pemerintah untuk meningkatkan uji corona akan menambah deret kasus positif.

Saat ini, Dicky menyebut rasio tes corona di Indonesia masih di bawah 0,21% dari total populasi. Tingkat positivitas (positivity rate) corona pun masih di kisaran 11%. "Maka perkiraan jumlah kasus infeksi Covid-19 yang belum ditemukan adalah 10 kalinya," kata Dicky ketika dihubungi Katadata.co.id, Jumat (10/7).

(Baca: Rekor Lonjakan 2.657 Kasus Corona RI, Jokowi: Sudah Lampu Merah)

Menurut Dicky, rendahnya cakupan tes di Indonesia berpotensi memunculkan klaster baru di tengah masyarakat. Banyak yang sebenarnya terinfeksi corona namun tanpa gejala (OTG) sehingga tidak terdeteksi.

Contohnya klaster baru di Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD), Bandung, Jawa Barat dengan jumlah kasus positif mencapai 1.262 orang. Padahal, hanya 17 orang yang memiliki gejala dan dirawat di rumah sakit, sebanyak 1.245 orang lainnya dalam kondisi tanpa keluhan.

"Sangat berpotensi (muncul klaster-klaster baru) karena banyak OTG atau yang pre-symptomatic tidak terdeteksi," kata Dicky.



Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia Pandu Riono pun menyatakan klaster-klaster corona baru sangat mungkin muncul ke depannya. Dia menilai klaster corona baru berpotensi muncul lantaran masih banyak masyarakat yang belum mematuhi protokol kesehatan.

"Penularan tinggi karena perilaku penduduk yang tidak 3M (menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan)," kata Pandu.

Di juga mengkritik pemerintah yang belum maksimal memberikan edukasi terkait penerapan protokol kesehatan dengan baik kepada masyarakat. Padahal, pemerintah sudah mulai melonggarkan pembatasan sosial dalam tatanan normal baru.

"Seharusnya sebelum dilonggarkan edukasi 3M harus dilakukan," kata Pandu.

(Baca: WHO: Muncul Bukti Covid-19 Bisa Menyebar Melalui Udara)



Reporter: Dimas Jarot Bayu