Pemprov Jakarta Buka Bioskop untuk Dorong Perputaran Ekonomi

ANTARA FOTO/Fauzan/wsj.
Sejumlah mobil mendatangi area pemutaran film di area parkir Mall Alam Sutera, Kota Tangerang, Banten, Sabtu (1/8/2020). Tempat tersebut menggelar pemutaran film secara drive-in sebagai hiburan alternatif bagi masyarakat di tengah pandemi COVID-19.
Penulis: Dimas Jarot Bayu
Editor: Yuliawati
27/8/2020, 21.34 WIB

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana membuka kembali bioskop. Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menyatakan pertimbangan ekonomi dan sosial menjadi alasan utama memutuskan membuka bioskop.

"Karena kontribusi ekonomi untuk bioskop juga cukup tinggi serta masyarakat secara umum memerlukan hiburan," kata Wiku di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (27/8).

Wiku menyebut Pemprov DKI telah mengkaji rencana tersebut hampir sekitar satu bulan dengan melibatkan Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19. Dari kajian tersebut, Tim Pakar Satgas Penanganan Covid-19 membuat beberapa ketentuan jika bioskop di Jakarta hendak dibuka.

Pertama, pengelola bioskop harus melakukan pemindaian usia dan kesehatan para penonton. Penonton yang boleh ke bioskop hanya yang berusia di atas 12 tahun dan di bawah 60 tahun dan tak boleh memiliki gejala virus corona dan penyakit penyerta.

Kemudian, kapasitas bioskop paling banyak hanya sebesar 50%. Seluruh penonton harus menggunakan masker dan faceshield. Masker yang digunakan harus memiliki filtrasi yang setara atau lebih tinggi dari masker bedah.

Penjualan tiket hanya boleh secara daring dan tak ada game arcade untuk menutup kemungkinan terjadinya penularan.

Lebih lanjut, pengelola bioskop harus menyediakan alat pengukur suhu. Pengelola bioskop juga harus menentukan pintu masuk dan keluar bioskop yang tidak sama untuk masyarakat.

Mereka juga harus menyediakan fasilitas cuci tangan di pintu masuk dan toilet. Selain itu, para petugas di bioskop harus dilatih dengan baik dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

"Apabila terjadi pelanggaran harusnya langsung ditutup seperti apa yang harus dilakukan oleh pemerintah daerah," kata dia.

Meski sudah ada kajian, Wiku menilai belum ada keputusan terkait rencana pembukaan bioskop. Menurutnya, keputusan atas pembukaan bioskop diserahkan kepada Pemprov DKI.

Hal tersebut harus mempertimbangkan tahapan prakondisi, waktu, prioritas, koordinasi pusat-daerah, serta hasil pemantauan dan evaluasi. "Tentu kita harus melihat tentang kesiapan dan kecukupan fasilitas kesehatan dan pendukung lainnya di dalam membuka suatu kegiatan sosial ekonomi," kata dia.



Sebelumnya, pernyataan Wiku yang menyebut pembukaan bioskop dapat meningkatkan imunitas tubuh yang bermanfaat untuk mencegah penyebaran pandemi virus corona, mendapat kritikan.

Pakar epidemiologi Universitas Indonesia (UI) Pandu Riono menyebutkan secara ilmiah tidak ada korelasi atau hubungan timbal balik antara rencana pembukaan bioskop dengan peningkatan kekebalan tubuh. Dia menilai rencana pembukaan bioskop justru dinilai sangat berisiko jika penerapan protokol kesehatan tidak dilakukan dengan ketat. "Itu mungkin hanya dihubung-hubungkan saja, padahal tidak berhubungan supaya orang mau nonton ke bioskop," kata Pandu kepada Katadata.co.id, Rabu (26/8).

Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI) Tri Yunis Miko juga menilai rencana pembukaan bioskop di DKI Jakarta tak tepat. Saat ini sebagian besar wilayah di Jakarta masih masuk ke zona merah dan oranye Covid-19.

Ada lima kota administrasi di Jakarta yang masuk zona merah pada saat ini, yakni Jakarta Utara, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur. Sementara, kepulauan Seribu berada di zona oranye. "Seharusnya bioskop tidak dibuka pada zona merah atau zona oranye," kata Tri kepada Katadata.co.id, Kamis (27/8).

Tri mengatakan, potensi penyebaran virus corona di bioskop tinggi karena aktivitasnya berada di ruang tertutup. Tanpa ventilasi yang baik, virus dapat bertahan di udara pada ruangan tertutup dalam waktu cukup lama. "Potensi airborne tinggi kalau bioskop di Jakarta," ujarnya.

Reporter: Dimas Jarot Bayu