UMKM Bidang Pariwisata Didorong Manfaatkan Dana PEN

ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/foc.
Petugas mengamati produk yang dipamerkan saat pameran Kerajinan Mebel dan Batik di kantor Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sleman, Yogyakarta, Rabu (29/7/2020).
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Yuliawati
21/9/2020, 20.27 WIB

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mengajak para UMKM di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk mengakses program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).  Pemerintah menganggarkan PEN sebesar Rp 123,46 Triliun agar UMKM dapat menjalankan usahanya selama pandemi.
 
Untuk tahap awal, pemerintah menempatkan dana di Himpunan Bank-bank Milik Negara (Himbara) dalam bentuk deposito senilai total Rp 30 triliun.“Penempatan uang negara pada bank Himbara dan BPD diharapkan dapat meningkatkan likuiditas bank sehingga mampu menyalurkankredit usaha produktif UMKM dan korporasi,” kata Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf Fajar Hutomo, saat sosialisasi program PEN di Yogyakarta, Senin (21/9).

Fajar berharap para pelaku usaha khususnya UMKM dapat mengetahui dan memanfaatkan secara maksimal program PEN. UMKM, memiliki peran signifikan mendongkrak perekonomian nasional. Pada 2018, sektor itu tercatat menyumbang terhadap produk domestik bruto (PDRB) mencapai 60,34% termasuk dalam aspek penyerapan tenaga kerja.


Penyaluran PEN di Yogyakarta

Khusus untuk wilayah Yogyakarta, BPD memperoleh anggaran PEN sebesar Rp 1 triliun. Hingga saat ini, dana tersebut sudah tersalurkan Rp 500 Miliar untuk membantu UMKM dan kerja sama dalam program pariwisata Visiting Jogja.

Keempat anggota bank Himbara juga melaporkan penyaluran bantuan PEN, yakni Bank Mandiri yang mengucurkan Rp 1,6 triliun atau Yogyakarta, dari total Rp 32 Triliun untuk nasional.

Bank BTN menyalurkan bantuan sejumlah Rp 500 Miliar. Adapun BRI mengalokasikan Rp 500 juta dari alokasi nasional sebesar Rp 10 Triliun.

 Pimpinan Wilayah BRI Yogyakarta Erizal mengatakan pihaknya berfokus pada bantuan pelaku UMKM di pasar tradisional. "Kami menghubungkan pembeli dan penjual di lebih 605 pasar tradisional. Peran BRI tetap berfokus pada bidang UMKM, termasuk untuk digitalisasi,” kata Erizal.

Senada dengan Erizal, Fajar Hutomo juga mengungkapkan pentingnya digitalisasi untuk UMKM. Terlebih pandemi telah mengubah perilaku konsumen dari offline menjadi online. Padahal berdasar data Kementerian UMKM, hanya 9,4 juta UMKM yang telah melakukan digitalisasi dari total 60 juta.

"Digitalisasi UMKM melalui perbankan diharapkan memberikan solusi lewat digital banking untuk cost transaksi, marketing online penjualan produk, dan program kemitraan CSR,” kata Fajar.

 Penyumbang bahan: Agatha Lintang

Reporter: Antara