PDIP Abaikan Faktor Elektoral Usung Capres, Sentil Ganjar Pranowo?
Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menyatakan akan mengumumkan calon presiden pilihan partai saat suasana rakyat membaik. PDIP menilai suasana di masyarakat saat ini sedang tidak baik karena Tragedi Kanjuruhan dan tingginya inflasi.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan elektabilitas tidak menjadi faktor utama dalam penentuan calon presiden periode 2024-2029. Hasto mencontohkan saat pemilihan Joko Widodo sebagai calon presiden periode 2014-2019 dan Ganjar Pranowo sebagai Gubernur Jawa Tengah.
Pernyataan ini dilontarkan Hasto di tengah hasil survei yang terus bermunculan. Dalam hasil penjaringan opini beberapa lembaga, nama Ganjar masih mengalahkan Ketua DPP PDIP Puan Maharani sebagai calon presiden paling populer.
"Elektoral bukan pertimbangan yang utama, tapi kepentingan bangsa dan negara. Ibu Megawati telah membuktikan begitu banyak pemimpin lahir dari PDI Perjuangan," kata Hasto di Sekolah Partai DPP PDIP, Kamis (13/10).
Hasto mengatakan, pemilihan calon presiden adalah kewenangan dari Megawati. Namun, PDIP tetap mempersiapkan mesin partai untuk mensukseskan Pilpres 2024.
"Ketika saya bertanya terkait calon presiden, Ibu Mega menjawab sabar. Nanti kita tunggu tanggal mainnya," ujar Hasto.
Terkait koalisi Pilpres 2024, PDIP membuka ruang gotong-royong dengan seluruh kekuatan elemen nasional. Partai berlambang banteng itu akan menggandeng partai yang punya rekam jejak dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
"Mari berpolitik dengan melihat problematika bangsa dan negara kita. Nanti akan ada tiba waktunya untuk berbicara pengerucutan calon presiden dan calon wakil presiden," kata Hasto.
Sebelumnya, Peneliti Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA Adjie Aflaraby menyatakan PDIP akan lebih rasional bila memilih Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo sebagai calon presiden dalam pemilu 2024. Alasannya, elektabilitas Ganjar kini menempati posisi tertinggi, dibandingkan dengan kandidat lainnya.
Selain itu, Adjie menilai PDI-P tidak akan diuntungkan bila menempatkan Puan Maharani sebagai cawapres. Menurutnya, bila Puan menjadi cawapres mendampingi Prabowo, efek ‘coat tail’ pilpres tidak akan didapat. Efek ‘coat tail’ adalah istilah politik untuk mendapatkan keuntungan dari figur atau sosok yang didukung.
LSI merilis survei di mana Ganjar unggul dalam skenario pencapresan ketika dipasangkan dengan ketua umum Golkar Airlangga Hartarto, memperoleh 30 persen suara mengalahkan Prabowo Subianto-Puan Maharani dengan 23,9 persen suara. Sedangkan Anies Baswedan-Agus Harimurti Yudhoyono hanya memperoleh 22,8 persen suara.