Polisi Sebut Kerangka di Gedung ACC Reno dan Farhan, Keluarga Terpukul

ANTARA FOTO/Fakhri Hermansyah/YU
Sejumlah keluarga korban menangis usai konferensi pers penemuan dua kerangka mayat di gedung ACC Kwitang, Rumah Sakit Polri, Jakarta Timur, Jumat (7/11/2025).
Penulis: Ade Rosman
7/11/2025, 21.18 WIB

Polisi menyatakan kerangka di kantor Astra Credit Companies atau ACC, Kwitang, Jakarta Pusat, merupakan M Farhan Hamid dan Reno Syahputra Dewo yang dilaporkan hilang sejak demonstrasi berujung ricuh akhir Agustus. 

Adin yang mewakili keluarga Farhan terpukul dengan temuan kerangka itu. Ia mengatakan, dua bulan kondisi keluarganya diambang ketidakpastian sejak Farhan dilaporkan hilang. 

“Biarkan kami melewati duka ini karena perjalanannya sangat panjang. Dua bulan kami terombang-ambing, dan hasil akhirnya ternyata, ada kerangka. Itu menyakitkan,” kata Adin yang hadir dalam konferensi pers yang digelar di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Jumat (7/11). 

Sementara Dani Aji, yang mewakili keluarga Reno syok dengan penemuan kerangka itu. “Kami akan diskusi terkait langkah selanjutnya. Kami masih berduka, syok, dan belum tahu akan bagaimana. Terlebih lagi, keluarga Reno berdomisili di Surabaya,” kata dia.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan atau KontraS menyoroti sejumlah kejanggalan atas klaim polisi yang menyatakan kerangka yang ditemukan di kantor ACC, Kwitang, Jakarta Pusat, merupakan M Farhan Hamid dan Reno Syahputra Dewo. 

Reno dan Farhan dilaporkan hilang sejak demonstrasi berujung ricuh pada akhir Agustus. Koordinator KontraS Dimas Bagus Arya menyoroti sejumlah poin dari pernyataan polisi. “Ada beberapa hal yang menurut kami juga masih perlu didalami,” kata dia.

Polisi mengklaim Farhan sempat menggadaikan ponsel beserta simcard. “Belum ada pernyataan soal apakah sudah ada identifikasi soal peretasan akun media sosial milik Farhan. Itu masih menjadi tanda tanya besar,” kata Dimas. 

Kemudian, Polda Metro Jaya pada saat mendapatkan informasi telah ditemukannya kerangka manusia di Gedung ACC pada 30 Oktober langsung mengklasifikasikannya sebagai kerangka milik Reno dan Farhan. 

“Kami saat itu bertanya, kenapa langsung jump into conclusion atau langsung menuju pada kesimpulan bahwa dua kerangka yang ditemukan di gedung ACC Kwitang itu kerangkanya Farhan dan Reno?” ujar Dimas. 

Padahal, selama dua bulan ke belakang, KontraS selalu mendesak kepolisian memberikan update berkala kepada keluarga korban berkaitan dengan laporan kehilangan keduanya. Menurut dia, ada beberapa hal yang masih menjadi pertanyaan yakni kenapa kepolisian langsung memperkirakan kedua kerangka itu Reno dan Farhan, meskipun ada beberapa gedung yang dibakar saat kerusuhan pada Agustus.

“Itu yang menurut kami masih perlu dijelaskan lebih lanjut oleh kepolisian,” kata dia. 

Ia juga menyoroti kondisi Gedung ACC setelah terbakar yang mana struktur bangunannya masih terlihat dan tidak rata runtuh. Di sisi lain, polisi menyatakan kerangka tersebut baru mengeluarkan bau tak sedap hampir satu bulan setelah terbakarnya gedung. 

KontraS akan terlebih dahulu berkonsultasi dengan keluarga korban setelah mereka menerima kerangka dari kepolisian untuk langkah selanjutnya. 

“Akan ditanyakan soal sejumlah hal-hal yang sekiranya masih mengganjal di keluarga. Kami belum bisa menjawab apa yang akan kami tempuh apabila ternyata ada kejanggalan yang sifatnya valid hasil dari asumsi-asumsi itu,” kata Dimas. 

Kepolisian menyimpulkan dua kerangka manusia yang ditemukan di Gedung ACC Kwitang, Jakarta Pusat, identik dengan Reno Syahputra Dewo dan Muhammad Farhan Hamid.

"Nomor posmortem 0080 cocok dengan antemortem 002 sehingga teridentifikasi sebagai Reno Syahputeradewo anak biologis dari Bapak Muhammad Yasin," kata Karo Labdokkes Polri Brigjen Sumy Hastry Purwanti dalam konferensi pers di RS Polri, Jumat (7/11).

"Nomor posmortem 0081 cocok dengan antemortem 001 sehingga teridentifikasi sebagai Muhammad Farhan Hamid anak biologis dari Bapak Hamidi," sambung dia.

Ia menyampaikan hal itu berdasarkan hasil identifikasi primer pada gigi dan tulang, selain itu didapati kecocokan dengan antemortem atau data kesehatan sebelum kematian.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Ade Rosman