KBRI Teheran Lobi Iran Buka Akses Dua Kapal Minyak Pertamina di Selat Hormuz
Kementerian Luar Negeri atau Kemenlu mulai berdiplomasi dengan pemerintah Iran untuk memberikan akses dua kapal milik Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemenlu Abdul Kadir Jailani mengatakan kegiatan diplomasi tersebut dilakukan oleh banyak negara dengan nasib sama.
"Kami memastikan bahwa kepentingan kapal Indonesia untuk mendapatkan perlindungan terus diberikan dan bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman. Namun, kondisi secara umum di kawasan tersebut belum kondusif," kata Abdul dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (6/3).
Abdul menyatakan penutupan Selat Hormuz akan berdampak besar pada perekonomian Indonesia. Sebab, negara-negara di Timur Tengah merupakan mitra dagang dengan nilai dan volume besar, khususnya komoditas minyak bumi.
Kemlu mulai mengkaji dampak penutupan Selat Hormuz kepada perekonomian Indonesia dan Negara-Negara Teluk. "Kami terus melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pemerintah Iran," ujarnya.
Sebelumnya, VP Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, mengatakan dua kapal yang masih berada di Selat Hormuz saat ini masih dipantau dan dipastikan dalam kondisi aman. Sedangkan dua kapal lainnya berada di luar wilayah tersebut.
Terdapat empat kapal Pertamina yang berada di kawasan Timur Tengah. Berikut daftarnya:
- Kapal Gamsunoro yang sedang proses loading di Khor al Zubair - Irak,
- Kapal Pertamina Pride yang telah selesai melakukan proses loading dan sekarang sedang berlabuh di Ras Tanura - Arab Saudi,
- Kapal Pertamina International Shipping Rinjani yang saat ini sedang berlabuh di Khor Fakkan - UAE,
- Kapal Pertamina International Shipping Paragon yang sedang discharge berada di Oman.
Sekitar 19% kargo minyak mentah Pertamina berasal dari kawasan Timur Tengah. Meski demikian, perusahaan telah menyiapkan berbagai skema untuk menjaga pasokan energi nasional.
Baron mengatakan stok BBM Pertamina untuk kebutuhan Ramadan dan Idul Fitri 2026 telah disiapkan sebelum situasi ini terjadi. Masyarakat diminta tetap tenang dan menggunakan energi secara bijak.
Terkait kemungkinan pengalihan impor, Baron mengatakan, berbagai strategi sedang diproses. Pertamina disebutnya masih terus memonitor perkembangan situasi di tengah lonjakan harga minyak dunia.
“Untuk tarif BBM ke depan masih kami proses dengan melihat perkembangan lebih lanjut,” kata Baron.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan kawasan tersebut menyumbang 20-25% dari total impor crude Indonesia saat ini. “Selebihnya kami ambil dari Afrika, Amerika, dan negara lain seperti Brasil,” kata Bahlil dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (3/3).