Nadiem Bantah Jaksa, Sebut Penggunaan CDM Sebagai Upaya Cegah Korupsi
Mantan Menteri Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim menilai ada paradoks dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum, yakni penggunaan Chrome Device Management atau CDM.
Dia membantah pernyataan jaksa yang mengatakan pengadaan CDM dalam 1,2 juta laptop pada 2019-2022 telah merugikan negara hingga Rp 600 miliar. Nadiem menilai CDM merupakan satu-satunya cara untuk meningkatkan transparansi dan mencegah kerugian negara.
"Ironi dalam kasus ini adalah anak-anak muda yang mau masuk pemerintahan dan membersihkan unsur-unsur korupsi, malah yang akhirnya dituduh korupsi," kata Nadiem di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta Selasa (21/4).
Jaksa menuntut Nadiem merugikan negara senilai Rp 2,1 triliun dalam pengadaan laptop Chromebook 2019-2022. Dari angka tersebut, sebanyak Rp 1,56 triliun dinilai berasal dari praktik kemahalan harga atau mark-up pada 1,2 juta unit laptop.
Adapun setiap laptop dalam periode pengadaan tersebut dilengkapi aplikasi CDM untuk mengawasi pemakaian laptop oleh murid dan guru. Namun penegak hukum menilai CDM tidak berguna dan mengelompokkan pembelian CDM sebagai kerugian total senilai Rp 600 miliar.
"Program digitalisasi yang menambah transparansi dan akuntabilitas malah dituduh sebagai satu tindakan korupsi," ujar Nadiem.
Nadiem juga berulang kali menyampaikan permohonan pengubahan status tahanan menjadi tahanan kota. Menurutnya, hal tersebut diperlukan agar tindakan medis terhadap dirinya tidak sia-sia.
Nadiem tidak menjelaskan lebih lanjut penyakit yang dialaminya, namun kondisinya membutuhkan ruangan steril yang tidak bisa didapatkan di Rumah Tahanan Salemba.
Nadiem sempat mendapatkan tindakan medis berupa operasi bulan lalu. Alhasil, majelis hakim membantarkan penahanan Nadiem selama 16 hari hingga akhir Maret. "Saya hanya mau sidang ini berakhir. Saya sudah capek," katanya.
Sebelumnya, Eks Wakil Presiden Google Asia Pasifik Caesar Sengupta mengatakan alasan utama Chromebook mendominasi industri pendidikan secara global, yakni biaya pemilikan.
Merujuk pada kajian firma analisis digital global IBC, biaya pemilikan Chromebook lebih murah 61% dalam periode 3 tahun daripada laptop dengan sistem operasi Windows.
Biaya pemilikan yang dimaksud yakni memasukkan biaya perawatan tahunan. Salah satu faktor yang menekan biaya pemilikan Chromebook adalah biaya langganan beberapa aplikasi di Windows.
Chromebook menggunakan OS Chrome yang berbasis Linux dan open-source. Caesar berpendapat Kementerian Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi bisa menekan biaya pemilikan Chromebook.
"Selain itu, strategi ini akan menghemat cadangan devisa. Saat itu, kami dan kementerian bekerja dengan strategis dan bijak dalam menurunkan biaya pemilikan Chromebook," kata Caesar dalam persidangan yang digelar pada Senin (20/4)
Alasan berikutnya adalah desain yang sederhana. Tak hanya itu, Caesar menjelaskan bahwa penggunaan CDM memungkinkan pengendalian Chromebook dalam jumlah banyak dari satu titik dan secara jarak jauh.
Seadngkan Kepala Divisi Pelatihan Developer Google Asia Pacific William Florence mengatakan CDM adalah konsol administratif untuk mengendalikan Chromebook dengan jumlah banyak. William mencontohkan pengendalian lebih dari 50 ribu unit Chromebook dengan CDM di Ukraina.
William mengatakan, kemampuan mengendalikan Chromebook melalui CDM merupakan keunggulan komparatif utama Chromebook. Sedangkan alasan utama tingginya adopsi Chromebook di dunia pendidikan adalah biaya pemilikan.