Belajar dari Warga RW 07 Rorotan, Bukti Keberhasilan Pilah Sampah dari Rumah
Jakarta masih menghasilkan sekitar 8.000 ton sampah per hari, sementara kapasitas pengolahan terus menjadi tantangan. Di tengah persoalan itu, RW 07 Kelurahan Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, sukses mengelola dan memilah sampah rumah tangga.
Kawasan tersebut menjadi salah satu wilayah percontohan pengelolaan sampah berbasis warga di Jakarta Utara. Gerakan ini sejalan dengan Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 tentang Gerakan Pemilahan dan Pengolahan Sampah dari Sumber.
Ketua RW 07 Rorotan, Idil Adha, mengatakan, gerakan pemilahan sampah organik dan non-organik mulai diperkuat sejak pertengahan Februari 2026. Sebelumnya, wilayah itu lebih dulu menjalankan bank sampah sebagai langkah awal pengelolaan sampah berbasis warga.
“Dalam tiga bulan, dari Maret, April, Mei, pengangkutan sampah ini naik terus,” ujar Idil kepada Katadata, Rabu (20/5).
Dalam waktu tiga bulan, sekitar 23 ton sampah berhasil dikumpulkan sebelum diolah lebih lanjut. Idil menuturkan, sampah organik dan non-organik tidak lagi langsung dikirim ke TPST (Tempat Pengolahan Sampah Terpadu) Bantargebang. Residu diharapkan menjadi satu-satunya jenis sampah yang keluar menuju fasilitas pengolahan akhir.
Agar program berjalan konsisten, pengurus RW membentuk tim yang melibatkan RT, kader PKK, dasawisma, karang taruna, hingga kelompok warga. Sosialisasi menjadi bagian penting untuk menjaga kebiasaan memilah sampah tetap berjalan di tingkat rumah tangga.
“Sumber daya manusia ini yang sangat penting. Jangan bosan terus melakukan sosialisasi,” ujar Idil.
Edukasi dan Pengolahan Sampah
Nina Luthfi, kader dasawisma RW 07 Kelurahan Rorotan, mengatakan edukasi dilakukan dari rumah ke rumah agar warga memahami pemisahan sampah sejak awal. Perlahan, warga mulai terbiasa memisahkan sampah organik dan non-organik.
“Awalnya kami edukasi dulu ke warga, mana sampah organik, mana non-organik. Jadi pelan-pelan warga mulai paham kalau sampah rumah tangga itu tidak bisa lagi dicampur,” ucapnya.
Sampah organik seperti sisa makanan, sayur, dan limbah dapur dimasukkan ke ember hijau, lalu dikumpulkan untuk dibawa ke TPS 3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle). Sementara sampah non-organik seperti botol plastik, kemasan, dan barang bernilai ekonomis dipisahkan melalui bank sampah.
“Kalau plastik atau botol masih bisa punya nilai jual. Jadi warga juga mulai sadar, ternyata sampah bukan cuma dibuang, tapi bisa dipilah dan ada manfaatnya,” katanya.
Dari proses ini, volume sampah organik yang terkumpul mencapai sekitar 800–850 kilogram setiap pengangkutan yang dilakukan dua hari sekali. Sampah tersebut kemudian diolah agar tidak langsung berakhir di tempat pembuangan.
Alur pengelolaan berjalan dari rumah tangga, drop point di lingkungan RT, hingga pengolahan di TPS 3R. Sebagian hasil olahan dimanfaatkan untuk kebutuhan budidaya ternak warga sekitar.
Idil mengatakan, capaian pemilahan sampah rumah tangga di RW 07 saat ini mendekati target penuh. “Target terakhir memilah 100 persen. Ya sekitar 97 persen lah capaian kita sekarang,” ungkapnya.
Ia menilai tantangan berikutnya adalah menjaga konsistensi warga sekaligus memperluas partisipasi ke pelaku usaha seperti rumah makan dan titik penghasil sampah lain.
“Warga kita dorong, tapi jangan salah, di wilayah itu ada jenis usaha rumah makan. Jangan warga kita sudah pilah, tapi mereka enggak mau tahu. Itu juga kita sosialisasi,” katanya.
Dukungan Fasilitas
Pengelolaan sampah di Rorotan diperkuat dengan fasilitas yang disiapkan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara. Sarana itu meliputi ember organik, tong drop point, losida (lodong sisa dapur), komposter, bioreaktor, timbangan digital, mesin pembubur, hingga gerobak motor listrik di lingkungan RT dan RW.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Dudi Gardesi Asikin, mengatakan, Rorotan dipilih sebagai salah satu wilayah percontohan karena memiliki kondisi kawasan yang representatif sekaligus didukung ekosistem penggerak komunitas yang sudah kuat.
“Di Kelurahan Rorotan telah terdapat bank sampah unit koepoe-koepoe, kader dasawisma aktif, serta kader RT/RW. Keberadaan penggerak di tingkat masyarakat menjadi faktor penting agar gerakan pilah sampah dapat berjalan secara konsisten dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, DLH DKI Jakarta turut memperkuat pendampingan melalui edukasi, penguatan bank sampah, serta penyediaan sarana penunjang bagi pengelolaan sampah berbasis lingkungan.
Menurut Dudi, dampak program pemilahan sampah dari sumber mulai terlihat dalam skala lebih luas. Volume sampah harian di Jakarta Utara saat ini berada di kisaran 1.000 ton per hari, sementara Kecamatan Cilincing menunjukkan tren penurunan tonase sampah yang cukup konsisten.
“Dari Januari hingga April 2026, terjadi penurunan sekitar 1.223 ton sampah di Kecamatan Cilincing, atau setara lebih dari 40 ton per hari yang tidak lagi dikirim ke TPST Bantargebang. Ini menjadi indikasi bahwa pemilahan dari sumber mulai berjalan lebih masif seiring meningkatnya partisipasi masyarakat,” urai Dudi.
Ia menilai pemilahan sampah dari sumber menjadi langkah penting agar pengurangan sampah di Jakarta berjalan lebih sistematis dan bisa direplikasi ke wilayah lain.
“Melalui sistem pemilahan sampah yang berjalan sejak dari sumber, volume sampah yang tercampur dan membebani TPST Bantargebang diharapkan dapat berkurang secara signifikan,” tuturnya.
Gerakan pilah sampah di RW 07 Rorotan menunjukkan pengurangan sampah bisa dimulai dari rumah tangga. Tantangannya bukan hanya menjaga konsistensi warga, tetapi memastikan model serupa dapat diperluas agar pengurangan sampah tak berhenti di kawasan percontohan.