Bacakan Pleidoi, Nadiem Pertanyakan Alasan Penegak Hukum Tak Dakwa Google
Mantan Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim mempertanyakan langkah Jaksa Penuntut Umum yang tidak mendakwa Google Asia Pacific Pte. Ltd dalam kasus pengadaan laptop Chromebook.
Nadiem menyampaikan tuduhan konflik kepentingan Nadiem dengan Google runtuh karena tidak memperkaya Google. Nadiem juga mempertanyakan sikap JPU yang tidak berani mendakwa atau mendengarkan kesaksian yang diberikan oleh tiga petinggi Google.
"Kenapa Kejaksaan tidak berani mendakwa Google bahkan menolak kesaksian tiga petinggi Google yang namanya disebut berkali-kali dalam dakwaan saya?" kata Nadiem dalam sidang pembacaan nota pembelaan atau pledoi di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Selasa (2/6).
Petinggi yang dimaksud adalah mantan Presiden Google Asia Pasifik Scott Beaumont, mantan Wakil Presiden Google Caesar Sengupta, dan mantan Kepala Divisi Pelatihan Developer Google William Florence. Ketiganya memberikan kesaksian lewat sambungan telekonferensi terhadap Pengadilan Tipikor Jakarta 20 April 2026.
Penegak hukum menuntut Nadiem telah memperkaya Google dalam pengadaan Chromebook. Secara rinci, Google dinilai memberikan imbal balik atau kickback ke Nadiem melalui skema investasi terhadap PT Aplikasi Karya Anak Bangsa sebelum akhirnya berubah menjadi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk.
"Google adalah penyedia perangkat lunak sistem operasi Chrome. Pihak yang menerima keuntungan dari pengadaan ini adalah vendor laptop, bukan google. Sementara itu, investasi Google ke Gojek dan pengadaan Chromebook adalah dua kejadian terpisah," katanya.
Nadiem mengingatkan bahwa mayoritas investasi Google ke Gojek terjadi sebelum dirinya menjadi menteri. Menurutnya, kontribusi Google ke total investasi ke Gojek terbilang kecil.
Karena itu, Nadiem menilai fakta tersebut seharusnya sudah mematahkan tuduhan jaksa bahwa investasi Google ke Gojek merupakan bentuk kickback program pengadaan Chromebook. Di samping itu, Nadiem mengingatkan bahwa investasi merupakan dana yang harus dibayar oleh penerima investasi lewat modus lain.
Nadiem mengatakan dirinya telah melepaskan hak suaranya sebelum menjadi menteri. Alhasil, posisi Nadiem dalam GoTo hanya pemegang saham tanpa unsur kendali yang menyebabkan tidak dapat dikenakan dakwaan konflik kepentingan.
Nadiem mengatakan putusan bersalah pada kasusnya dapat membuat banyak pejabat yang berinvestasi di pasar modal dapat terjerat kasus korupsi. Sebab, salah satu investor GoTo saat ini adalah PT Astra Internasional yang menjadi induk perusahaan agen pemegang merek beberapa kendaraan, seperti Toyota, Daihatsu, dan Honda.
"Dengan logika yang sama, semua pengadaan kendaraan hasil kerja Astra otomatis akan menjerat pejabat negara kalau mereka terbukti memiliki saham GoTo," katanya.
Dalam kesaksiannya, para petinggi Google Asia-Pasifik membantah kesepakatan dengan mantan Menteri Pendidikan, Budaya, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim pada Februari 2020.
Pernyataan ini membantah tuduhan Jaksa Penuntut Umum atau JPU yang menyebut dugaan kesepakatan penggunaan Chromebook antara Google dan Nadiem dalam pertemuan awal 2020. Pertemuan tersebut juga menjadi permulaan pengadaan Chrome Device Management atau CDM di 1,2 juta laptop pada 2019-2022.
"Sama sekali tidak ada janji atau kesepakatan antara Nadiem dan Google untuk mengupayakan pembelian Chromebook dalam pengadaan komputer," kata Eks Presiden Google Asia Pasifik Scott Beaumont melalui sambungan telekonferensi di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin (20/4).
Beaumont menjelaskan inti pertemuan Google dan Kemendikbud Ristek pada Februari 2020 adalah penjajakan kerja sama antara Google dan Kemendikbud Ristek dalam digitalisasi pendidikan. Karena itu, dia menjelaskan produk Google for Education kepada Nadiem dan timnya saat itu.
Beaumont juga membenarkan Google Asia-Pasifik melihat peluang pengembangan usaha di Indonesia melalui program digitalisasi pendidikan. Namun dia menilai pertemuan tersebut ditutup dengan nada pesimistis dalam pemilihan Chromebook sebagai jenis laptop yang dipilih di Indonesia.
"Seperti yang dikatakan Scott, kami keluar dari pertemuan tersebut dengan perasaan yang cukup pesimistik terkait keterlibatan Chromebook dalam program digitalisasi pendidikan. Karena itu, sama sekali tidak ada kesepakatan dalam pertemuan tersebut," kata Eks Wakil Presiden Google Asia Pasifik Caesar Sengupta.