Jaga Jakarta dari Kebakaran: Bangun Budaya Keselamatan Bersama

Humas Pemprov DKI Jakarta
Wakil Gubernur (Wagub) DKI Jakarta, Rano Karno saat meninjau warga terdampak kebakaran di Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Selasa (2/6)
3/6/2026, 16.16 WIB

Kebakaran masih menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Jakarta sebagai kota metropolitan dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Dalam hitungan menit, api dapat melalap bangunan, menghanguskan harta benda, bahkan mengancam keselamatan jiwa. 

Untuk itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus berupaya menekan angka kebakaran melalui berbagai program mitigasi dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Langkah ini menjadi relevan mengingat sebagian besar kebakaran dapat dicegah.

Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, mengungkapkan sekitar 95 persen kasus kebakaran di Jakarta disebabkan oleh korsleting atau hubungan arus pendek listrik. Hal ini menunjukkan persoalan keamanan instalasi listrik masih menjadi pekerjaan rumah bersama, baik bagi pemerintah maupun warga.

“Kalau melihat data yang ada, sekitar 95 persen kebakaran di Jakarta disebabkan korsleting listrik. Karena itu, masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam penggunaan instalasi listrik dan peralatan elektronik di rumah,” ucapnya, beberapa waktu lalu.

Untuk mengurangi risiko, Pemprov DKI Jakarta melalui Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) terus memperkuat strategi pencegahan berbasis komunitas. Salah satunya dengan memperluas distribusi Alat Pemadam Api Ringan (APAR) ke permukiman warga.

Hingga 2025, sebanyak 6.843 RT di DKI Jakarta telah menerima distribusi APAR. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 22 persen dari total 30.679 RT yang ada di Jakarta. Secara keseluruhan, sebanyak 10.668 unit APAR berukuran 3,5 kilogram telah disalurkan kepada masyarakat sejak 2022.

Kepala Dinas Gulkarmat Provinsi DKI Bayu Meghantara mengatakan kehadiran APAR di lingkungan warga menjadi alat pertolongan pertama ketika terjadi kebakaran skala kecil, sehingga api dapat dikendalikan sebelum membesar dan menimbulkan kerugian lebih luas.

Namun, upaya pencegahan tidak berhenti pada penyediaan sarana. Peran DAMKAR juga berkembang menjadi motor penggerak edukasi dan pemberdayaan masyarakat. Kesadaran bahwa kebakaran dapat dicegah menjadi fondasi penting dalam membangun kota yang aman.

“DAMKAR secara aktif melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, sekolah, perkantoran, tempat usaha, hingga lingkungan permukiman mengenai bahaya kebakaran dan cara pencegahannya. Pelatihan penggunaan APAR juga terus dilakukan agar masyarakat mampu melakukan pemadaman awal ketika menghadapi kebakaran kecil,” ungkap Bayu.

Selain itu, simulasi dan latihan evakuasi secara rutin menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesiapsiagaan warga menghadapi kondisi darurat. Melalui latihan tersebut, masyarakat tidak hanya memahami cara menyelamatkan diri, tetapi juga mengetahui langkah yang harus dilakukan untuk membantu orang lain saat terjadi kebakaran.

DAMKAR juga mendorong pembentukan dan pembinaan Barisan Sukarelawan Kebakaran (Balakar) di tingkat RT dan RW. Kehadiran relawan ini menjadi perpanjangan tangan pemerintah dalam menyebarluaskan pengetahuan mengenai keselamatan kebakaran sekaligus memperkuat respons awal di lingkungan masyarakat.

Berbagai media komunikasi juga dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan edukasi, mulai dari brosur, poster, spanduk, video edukasi, hingga kampanye melalui media sosial. Pesan yang disampaikan sederhana namun penting: kebakaran dapat dicegah jika masyarakat memahami risikonya dan menerapkan langkah-langkah keselamatan secara konsisten.

“Upaya lain yang tidak kalah penting adalah inspeksi dan pendampingan keselamatan kebakaran pada bangunan, kawasan permukiman, dan tempat usaha. Pendekatan ini bertujuan memastikan standar keselamatan diterapkan dengan baik serta mengidentifikasi potensi risiko sebelum berubah menjadi bencana,” ungkap Bayu.

Kesadaran akan keselamatan juga ditanamkan sejak dini melalui program edukasi bagi anak-anak dan pelajar. Dengan mengenalkan budaya keselamatan kebakaran sejak usia muda, diharapkan terbentuk generasi yang lebih peduli terhadap aspek keamanan lingkungan.

Mengingat tingginya angka kebakaran akibat korsleting listrik, penyuluhan mengenai penggunaan listrik dan gas yang aman menjadi salah satu fokus utama. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk secara rutin memeriksa instalasi listrik, menghindari penggunaan stop kontak bertumpuk, serta memastikan peralatan elektronik dalam kondisi layak pakai.

Pada musim kemarau, kewaspadaan semakin ditingkatkan melalui berbagai kampanye mengenai bahaya pembakaran sampah, lahan, maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran. Langkah preventif tersebut menjadi penting karena kondisi cuaca kering dapat mempercepat penyebaran api.

“Ke depan, Pemprov DKI Jakarta juga terus mendorong pengembangan Kampung Siaga Kebakaran, yaitu lingkungan yang memiliki sarana proteksi dasar, jalur evakuasi yang jelas, serta warga yang telah mendapatkan pelatihan penanggulangan kebakaran. Konsep ini menempatkan masyarakat sebagai garda terdepan dalam upaya pencegahan dan penanganan awal kebakaran,” jelas Bayu.

Pada akhirnya, menjaga Jakarta dari ancaman kebakaran bukan hanya tugas petugas pemadam kebakaran. Keselamatan kota adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah dapat menyediakan sarana, edukasi, dan sistem penanganan yang semakin baik, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat. Melalui kolaborasi antara pemerintah dan warga, budaya sadar keselamatan dapat tumbuh di setiap lingkungan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.