Prabowo Ajak Presiden Jerman Perluas Investasi Hilirisasi dan Mineral Kritis RI

ANTARA FOTO/Galih Pradipta/hma/kye
Presiden Prabowo Subianto (kanan) menyaksikan Presiden Republik Federal Jerman Frank-Walter Steinmeier (kiri) menandatangani buku tamu saat kunjungan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (15/6/2026).
15/6/2026, 14.31 WIB

Presiden Prabowo Subianto mengajak Jerman untuk memperluas investasi di sektor hilirisasi industri hingga pengembangan mineral kritis. Ia menyampaikan hal tersebut setelah melangsungkan pertemuan bilateral dengan Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, di Istana Merdeka Jakarta pada Senin (15/6).

Prabowo berharap peran Jerman di sektor hilirisasi dapat mempercepat transformasi industri nasional melalui penguatan rantai pasok kendaraal listrik atau electric vehicle (EV) hingga semikonduktor.

“Contoh di bidang transisi energi, di bidang hilirisasi industri, di bidang kendaraan karena kita akan menuju kepada kendaraan listrik, serta pengembangan industri semikonduktor,” kata Prabowo dalam pernyataan pers bersama Presiden Jerman frank-Walter Steinmeier.

Dalam pertemuan kali ini, Indonesia dan Jerman membahas penguatan kemitraan di berbagai bidang. Antara lain mulai dari sektor ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, hingga transisi dan ketahanan energi.

Prabowo menilai penguatan kemitraan kedua negara saat ini penting di tengah situasi global yang tidak menentu. Selain itu, Prabowo juga menawarkan peluang bagi Jerman untuk terlibat dalam rantai pasok mineral kritis dan logam tanah jarang di Indonesia.

“Kami juga mengundang Jerman untuk ikut serta dalam rantai pasok mineral kritis dan tanah jarang juga dalam pengembangan infrastruktur kita,” ujarnya.

Prabowo mengatakan Indonesia dan Jerman telah memperkuat kerja sama dua negara melalui program Competitiveness Industrial Modernization and Trade Acceleration Program (CITA) serta program Partnering in Business with Germany yang menyasar pada pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

“Saya sangat berkeyakinan bahwa Jerman harus memainkan peran yang lebih aktif dan lebih penting karena kami butuh kemitraan yang baik dengan Jerman dan dengan Eropa,” kata Prabowo.

Kedua negara juga sepakat untuk meningkatkan volume perdagangan dan investasi. Indonesia juga berharap hubungan ekonomi dengan Eropa semakin kuat melalui penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier, menilai perjanjian itu membuka peluang untuk mendorong investasi tambahan ke Indonesia nantinya, terutama pada sektor UMKM.

“Perjanjian ini mengandung potensi yang sangat besar, itu dimungkinkan investasi baru bagi perusahaan kecil dan menengah dari Jerman untuk berinvestasi di Indonesia,” kata Steinmeier.

Ia mengatakan sejumlah Perusahaan Jerman telah lama hadir dan beroperasi di Indonesia, seperti Siemens, Daimler, dan Infineon. Kehadiran perusahaan itu dinilai menjadi komitmen Jerman untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

“Itu menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya merupakan pasar yang makin memiliki daya tarik, melainkan juga menjadi lokasi untuk investasi,” ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu