KSP Dudung Singgung Kericuhan Aceh: Ada Oknum Manfaatkan Situasi

ANTARA FOTO/Novrian Arbi/agr
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Jenderal TNI (Purn) Dudung Abdurachman (kanan) didampingi Direktur SDM, Pendidikan dan Penelitian RSHS Fitra Hergyana (kedua kiri) memberikan keterangan pers usai menjenguk korban kasus penganiayaan dan penyekapan di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung, Jawa Barat, Kamis (25/6/2026).
17/8/2026, 16.11 WIB

Kepala Staf Kepresidenan (KSP), Dudung Abdurachman, mengatakan situasi di Aceh kembali kondusif setelah terjadi bentrokan antara massa aksi dan aparat kepolisian pada Jumat (15/8).

Dudung menilai bentrokan tersebut hanya melibatkan segelintir oknum yang memanfaatkan momentum peringatan Hari Perdamaian Aceh pada 15 Agustus. Ia mengatakan Aceh tetap menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Itu memanfaatkan situasi, memang tanggal 15 Agustus itu hari perdamaian. Cuma ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan itu. Itu hanya segelintir, oknum saja,” kata Dudung sesuai mengikuti Upacara Peringatan Proklamasi di Istana Merdeka Jakarta pada Senin (17/8).

Menurut Dudung, situasi ketegangan di Aceh tidak berlangsung lama dan segera kembali terkendali. Setelah kondisi mereda, bendera Merah Putih kembali berkibar di lokasi kejadian. “Sudah kondusif, tidak lama, setelahnya Merah Putih kembali berkibar,” ujarnya.

Keterangan serupa juga disampaikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD), Jenderal Maruli Simanjuntak. Ia mengatakan aparat penegak hukum setempat telah menyiapkan langkah pengamanan untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan di Aceh.

Maruli mengatakan aparat TNI terus berkoordinasi dan mendukung kepolisian dalam menjalankan tugas penegakan hukum. Ia menilai situasi di Aceh tidak menunjukkan persoalan serius. “Tidak ada masalah, mereka anak muda saja,” kata Maruli di lokasi serupa.

Maruli menyampaikan pihak TNI tidak perlu menambah personel untuk menghadapi situasi di lapangan saat itu. Ia telah berkoordinasi dengan Panglima Kodam dan memastikan kondisi Aceh masih terkendali.

“Tidak perlu, tidak ada penambahan (prajurit). Kami mendukung kepolisian untuk bisa menegakkan hukum,” ujarnya.

Sebelumnya, massa doa dan zikir bersama Hari Damai Aceh ke-21 bentrok dengan aparat kepolisian. Massa melempar polisi yang dilengkapi tameng dan baju pengaman di seputaran taman kota depan Masjid Raya Baiturrahman, Kota Banda Aceh.

Polisi melepaskan tembakan gas air mata membubarkan massa. Dalam aksi tersebut merusak sejumlah mobil yang parkir di badan jalan depan masjid raya. Aksi massa henti menjelang shalat dhuhur. 

Aksi massa tersebut dipicu tembakan usai massa menurunkan bendera merah putih dan mengibarkan bendera bulan bintang di tiang bendera Masjid Raya Baiturrahman.

Usai shalat dhuhur, Kapolda Irjen Pol Ruddi Setiawan terlihat menjumpai massa. Massa sempat mengerubungi jenderal polisi bintang dua itu serta meminta polisi membebaskan peserta aksi yang sempat ditahan.

Sempat terdengar letusan senjata ketika Kapolda dikerubungi massa dan dilarikan sejumlah polisi. Kemudian, Kapolda Aceh kembali terlihat bersama massa hingga akhirnya naik ke mobil polisi dan menyampaikan dua peserta aksi dibebaskan.

Sebelumnya, Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol Joko Krisdiyanto mengatakan pihaknya belum mengetahui secara pasti berapa orang diamankan serta berapa orang menjadi korban kerusuhan tersebut 

"Kami masih mendata dampak kejadian tersebut. Jika data dan informasinya ada, nanti kami sampaikan. Kami berharap Aceh tetap aman dan kondusif," kata Joko Krisdiyanto, sebagaimana diberitakan oleh Antara pada Sabtu (15/8).

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu