5.482 Korban Keracunan MBG Sejak Akhir Juli 2026, BGN Soroti Pelanggaran SOP

ANTARA FOTO/Andri Saputra/tom.
Petugas menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tubo, Ternate, Maluku Utara, Senin (8/6/2026).
4/9/2026, 12.47 WIB

Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono mencatat telah ada 5.482 korban keracunan sejak dirinya menjabat pada 22 Juli 2026. Seluruh korban tersebut tersebar dalam 71 kejadian keracunan dari makanan yang dibuat oleh 62 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG.

Mayoritas insiden keracunan atau kejadian fatal tersebut berada di Pulau Jawa dan Madura, sebanyak 45 kejadian. Alhasil, sebanyak 3.799 penerima manfaat terkena dampak yang membuat 38 SPPG ditutup sementara.

"Sebagian besar atau lebih dari 80% penyebab keracunan tersebut adalah pelanggaran Standar Operasional Prosedur," kata Sudaryono dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IX DPR, Jakarta, Kamis (3/9).

Kejadian di Pulau Jawa dan Madura hanya membuat 14 penerima manfaat harus dirawat di rumah sakit. Sudaryono menunjukkan kejadian fatal di Pulau Sumatra membuat 28 penerima manfaat harus dirawat di rumah sakit.

Sudaryono mengatakan, kejadian fatal di Andalas sebanyak 12 kejadian oleh 12 SPPG yang berdampak pada 715 penerima manfaat. Namun Sudaryono belum membuka kembali 12 SPPG yang ditutup sementara tersebut.

Sudaryono mengatakan, kejadian keracunan terbaru berada di Sumatra Barat yang berawal oleh SPPG Agam Palupuh Pasa Laweh pada Rabu (2/9). Kejadian fatal tersebut membuat 237 penerima manfaat terdampak lantaran makanan didistribusikan terlalu awal yang membuat interval konsumsi MBG melewati batas aman.

Kejadian fatal dengan jumlah penerima manfaat terbanyak terjadi di Sumatra Utara yang berawal dari SPPG Karo Berastagi Sempajaya pada 13 Agustus 2026. Kejadian fatal tersebut membuat 279 penerima manfaat terdampak karena salah satu menu tidak memenuhi persyaratan kelayakan konsumsi.

Sudaryono menilai mayoritas alasan pelanggaran tersebut adalah ketidaksesuaian antara kapasitas dapur dan jumlah penerima manfaat. Menurutnya, jumlah dapur aktif yang beroperasi saat ini mencapai 27.022 unit.

"Ada dapur dengan kapasitas besar namun diberikan jumlah penerima manfaat kecil, tapi ada juga SPPG berkapasitas kecil diberikan jumlah penerima manfaat yang besar," katanya.

Kasus keracunan lain yang menjadi perhatian Sudaryono adalah di Sidoarjo, Jawa Timur yang membuat 512 siswa Pondok Pesantren Manbaul Hikam terdampak.

Investigasi sementara BGN menunjukkan makanan yang dikonsumsi siswa Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Sidoarjo, Jawa Timur mulai dimasak pukul 00.00 waktu setempat. Alhasil, MBG yang akan disantap para siswa rampung pukul 05.00 dan telah diberi label harus dimakan sebelum pukul 10.00 WIB.

"Sudah tahu harus dikonsumsi pukul 10.00 WIB, tapi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Talang Angin baru mengantarkan ke sekolah pukul 11.50 WIB dan baru dikonsumsi setelah pukul 12.00 WIB," katanya.

Sebelumnya, BGN melaporkan 512 siswa Pondok Pesantren Manbaul Hikam mengalami keracunan setelah mengonsumsi MBG yang disiapkan oleh SPPG Talang Angin.

Sudaryono menyatakan BGN masih melakukan penyisiran terhadap penerima MBG yang kemungkinan mengalami gangguan kesehatan tetapi tidak mendapatkan perawatan di puskesmas maupun rumah sakit.

Untuk mencegah kejadian serupa, Sudaryono meminta kendaraan pengangkut makanan MBG tiba di sekolah sebelum batas waktu konsumsi makanan berakhir.
Jika pada waktu tersebut makanan belum dikonsumsi, maka harus ditarik kembali dan dibawa pulang.

Selain itu, kapasitas dapur juga diminta disesuaikan agar proses produksi dan distribusi makanan tidak menyebabkan makanan terlalu lama berada dalam perjalanan sebelum dikonsumsi.

“Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, mohon maaf, kami tidak bisa bantu,” kata Sudaryono.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

Reporter: Andi M. Arief